Getah Semesta

Thursday, April 19, 2018

Tanah Papua

gunung gemunung bergulung-gulung
titik menitik honai di belantara
hitam meninggi seka dedaunan
busur tergantung di dahan
anak-anak panah patah

bukit berkait-kait
padang ilalang bergoyang
menari membungkus tanah
hijau merunduk menunggu embun
atau menguning terbakar terik

sungai melambai-lambai
bocah-bocah meloncat cebur
telanjang hitam menepuk air
bersandar pada bebatuan dingin
yang basah abadi

laut jujut menjujut
jala menjaring ikan-ikan menangis
nelayan berjidat bulan merebus sampan
dayung mengaduk
samudra menguap hilang

Wednesday, April 11, 2018

Usia dan Rupa

Akhir usia bukan rahasia. Kita bisa memilih, bahkan saat ini, untuk mengakhirinya. Sama seperti ketika seorang perawan menyayat nadinya di gubuk, karena tak ingin diperkosa puluhan tentara. Siapa yang berhak mengadilinya, lantas mengatakan pilihan bunuh diri semacam itu dosa?

Bagi mereka yang cemas ketika usia beranjak tua, orang-orang seperti itu menghabiskan waktunya sepanjang hari di depan cermin. Paras adalah ukuran, seperti diajarkan kitab-kitab langit bahwa kita akan kembali muda dan menarik, ketika berada di surga kelak.

Sama seperti Tuhan, yang digambarkan dengan berbeda-beda paras sejak dulu kala, sebelum agama-agama langit membumi. Selalu saja, wujudnya direkatkan dengan paras yang elok. Padahal kecintaan tak melulu soal paras.

Jika ada orang-orang yang terlahir di salah satu suku pedalaman berkulit cokelat dan bermata kuning, yang tak pernah tahu di dunia luar sana ada beragam corak kulit, maka wujud Tuhan yang akan mereka imajinasikan tentunya berwarna cokelat dan bermata kuning.

Apabila mereka menggambarkan wujud Tuhan sebagai hewan, maka mereka akan memilih salah satu hewan di sekitar mereka, yang pernah mereka lihat. Dan selalu saja, yang dipilih adalah yang terbaik. Karena itu, sudah naluriah manusia untuk terbiasa mengingkari wujud yang berubah, yang menjadi renta dan ringkih. Manusia gemar bermimpi untuk menjadi Tuhan.

Hari ini, tepat berpijak di usia 35 tahun, tinggal butuh 15 tahun lagi untuk bisa mengetahui rahasia langit. Masa ketika sakit semakin sering menjenguk kita, dan mengingatkan bahwa kita hanya sehelai ruh yang menunggu luruh.

Selain menua, sakit adalah hal yang paling ditakuti manusia. Padahal sakit membuka celah untuk kita bisa melihat lebih dalam, ada sifat paling mulia yang kita miliki yaitu ketabahan. Sifat yang disemai oleh harapan. Dan sakit menyuburkannya.

Jangan pernah menyesali sakit dan mengingkari tua. Apatah artinya hidup, jika tidak melalui proses kehidupan itu sendiri? Fisik bisa rengsa, tapi tidak dengan jiwa. Semakin menua, jiwa kita semakin kaya. Tetap pertahankan imajinasi kekanak-kanakan, sebab hal itu tak butuh kedewasaan.

Dan, karena hidup hanyalah mimpi sebelum kita akhirnya mati dan terbangun, maka mari rayakanlah hari raya usiamu, meski hanya dengan sebatang mimpi yang menyala terang.

Cheerrrsss!

Friday, March 16, 2018

Sebongkah Berlian di Kepulauan Togean


Ini tanah airmu, di sini kita bukan turis …

Teman saya, Rival Dako a.k.a Pepen, menyuruh saya memunggunginya. Kemudian ia memotret tulisan di kaus saya itu. Sebait sajak dari Wiji Thukul.

Selasa malam, 16 Mei 2017, kami berada di atas buritan kapal feri di pelabuhan Gorontalo, yang hendak menuju pelabuhan Wakai, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain saya dan Pepen, ada teman satu lagi bernama Wawan Akuba yang ikut bersama kami.

Di antara kami bertiga, hanya saya yang baru kali pertama menuju Wakai, atau tepatnya Kepulauan Togean. Ini adalah wilayah Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT), yang juga merupakan destinasi wisata andalan di Sulteng atau di Pulau Sulawesi.

Pepen pada bulan sebelumnya, sudah pernah mengunjungi Togean bersama Wawan. Dan dari kami bertiga, Wawan satu-satunya yang layak menerima tropi karena berada di urutan pertama, orang yang sudah tiga kali berkunjung ke Togean. Ia sudah sejak Maret dan April 2017.

“Iya, kami akan ke Pulau Malenge dan Pulau Papan. Ada program kampanye lingkungan di sana,” suara Wawan sayup-sayup terdengar.

Ternyata ia sedang berbincang dengan seorang bule perempuan, yang belakangan diketahui berasal dari Australia. Bule itu kira-kira usianya di atas 50, rambut merahnya sudah berhias keperakan. Ia duduk di bangku panjang, yang hanya muat untuk kami berempat. Saya, Pepen, Wawan, dan dia.

Bule yang saya lupa namanya itu, fasih berbahasa Indonesia. Ia sudah bertahun-tahun tinggal di Desa Katupat. Secara sukarela, ia mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak pulau.

“Saya baru saja mengantar anak laki-laki saya dan pacarnya ke bandara. Mereka berlibur di Togean,” katanya, sambil mengepulkan asap rokok yang dengan cepat disambar angin di pelabuhan.

Tak lama berselang, bule itu pamit dengan melempar senyuman dan sekali anggukan. Ia menuju tong sampah lalu mematikan rokoknya, dan berjalan masuk menuruni tangga ke lambung kapal.

Saya sedang memotret tulisan Pelabuhan Gorontalo yang menyala dari kejauhan. Tiba-tiba buritan riuh. Sekelompok mahasiswa muncul dan berfoto-foto. Satu per satu bule-bule pun muncul. Ada sekitar sembilan orang bule. Di genggaman tangan mereka ada bir kaleng ukuran jumbo, yang mereka beli di kafetaria mungil tepat di samping kanan buritan.

Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 9 malam. Tak lama kemudian bel kapal berbunyi. Kami akan segera bertolak menuju Pelabuhan Wakai.

“Biasa, kalau berangkat jam begini, tiba di Wakai jam berapa? tanya saya.

Pepen yang tengah asyik dengan ponselnya, menengadah, “Sekitar pukul 8 pagi.”

Lama tempuh sekitar 12 jam. Waktu yang sama jika kita bertolak dari Pelabuhan Gorontalo menuju Pelabuhan Pagimana, di Kabupaten Luwuk Banggai. Semalam.

Sudah hampir sejam kapal bertolak, lampu-lampu di daratan masih terlihat. Sinyal di ponsel pun masih dua sampai tiga lengkungan. Orang-orang di buritan yang tidak tahan terpaan angin, memilih masuk.

Wawan membuka ranselnya dan mengambil hammock. Ia menggantungnya tepat di samping kami. Saya dan Pepen pun ikut menggelar sleeping bag di lantai kapal, di bawah naungan hammock-nya Wawan, yang serupa kepompong melintang.

Sekitar tiga meter di samping kiri kami, tiga pria bule juga ikut melantai berbungkus sleeping bag. Sementara di sebelah kanan ada dua pria bule berpostur tinggi besar, masih berasyik-masyuk dengan bir kaleng. Sepintas mereka berdua seperti saudara kembar. Sama-sama berkepala plontos dan berpipi tebal. Tapi dari usia, bisa ditebak mereka adalah ayah dan anak. Kedua bule itu akhirnya merentangkan badan di lantai beralas matras. Kulit putih, membuat pipi merah mereka terlihat jelas seperti sepasang buah tomat, tersaput cahaya bohlam.

Kendati kami membeli tiket kelas bisnis seharga Rp89 ribu, yang mana disediakan kursi empuk di dalam kapal, namun kami lebih memilih tidur di buritan depan kafetaria. Untuk tiket ekonomi seharga Rp63 ribu, penumpang biasanya disediakan ranjang kayu dua susun. Jika ranjang penuh, maka penumpang memilih beralas kardus atau matras yang disewakan Rp10 ribu.

Untuk kelas VIP seingat saya harganya berkisar Rp100 ribu. Di kelas ini disediakan tempat tidur berjejer untuk belasan orang. Pun fasilitas pendingin ruangan dan kamar mandi. Tapi fasilitas itu kalah menarik dengan hamparan bintang di langit, angin sejuk, dan tempat tidur seluas buritan, seukuran lapangan badminton itu.

Bagi yang ingin lebih privasi, bisa menyewa kabin. Tentunya dengan harga lebih mahal, berkisar Rp300-500 ribu per kabin, bisa muat untuk dua atau tiga orang, dengan ranjang susun. Bahkan awak-awak kapal biasanya ada yang menyewakan kabin mereka.

Tak sabar rasanya ingin segera sampai ke Kepulauan Togean. Dan salah satu cara tercepat adalah: tidur.

Sebenarnya untuk pergi ke Togean ada beberapa rute yang bisa dipilih. Bagi yang hendak lewat Gorontalo, untuk turis yang baru kali pertama, bisa datang ke Gorontalo melalui jalur udara. Saat Anda mendarat di Bandara Jalaluddin Gorontalo, bisa menyewa kendaraan untuk menuju Pelabuhan Gorontalo. Biasanya tarif per orang Rp70-80 ribu. Kalau ada yang meminta biaya lebih dari seratus ribu, yakinlah mereka itu ingin naik haji cepat-cepat.

Selanjutnya, di Pelabuhan Gorontalo Anda harus membeli tiket kapal feri Tuna Tomini, dengan variasi harga yang saya jelaskan sebelumnya. Jadwal berangkat kapal feri biasanya Selasa dan Jumat, paling lambat sekitar pukul 6 malam.

Bagi yang ingin lewat Gorontalo dengan rute berbeda, bisa melalui Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Anda akan tiba di Dolong, Pulau Waleakodi, Kepulauan Togean. Tapi jarak tempuh dari bandara ke Paguat sekitar 5 jam. Dari Bumbulan, naik kapal Cengkeh Afo, yang hanya berangkat setiap Senin dan Kamis, waktu yang sama dengan keberangkatan kapal feri di Pelabuhan Gorontalo. Tapi dari Bumbulan, jarak tempuh melalui laut hanya 6 jam.

Sementara rute lain yang bisa dipilih, Anda bisa melalui Palu, Sulteng. Sesudah mendarat di Bandara Mutiara SIS Aljufri Palu, dilanjutkan dengan jalur darat menuju Pelabuhan Ampana. Anda akan melewati Poso, dengan jarak tempuh 375 km selama 10 jam, menggunakan bus. Biasanya dari bandara di Palu, ada juga pesawat baling-baling menuju bandara kecil Tanjung Api di Ampana.

Setibanya di Ampana, Anda tinggal melanjutkan perjalanan dengan kapal publik Puspita Sari atau Lumbalumba menuju Wakai. Harga tiket hanya Rp20 ribu, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam. Kapal tersebut hanya beroperasi Senin, Rabu, dan Sabtu, sekitar pukul 10 pagi.

Ingin lebih cepat sampai, biasanya ada kapal cepat dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Tapi Anda harus merogoh kocek sekitar Rp150 ribu per orang. Kapal lainnya yang bisa ditumpangi, yakni kapal feri Tuna Tomini yang berangkat dari Ampana setiap Senin, Kamis, dan Minggu dengan waktu beroperasi yang sama dengan kedua kapal sebelumnya. Tapi jika Anda memilih naik kapal feri ini, harus dipastikan apakah ingin turun di Wakai atau Dolong. Tapi kebanyakan turis akan turun di Pelabuhan Wakai.

Dari semua rute pilihan di atas, melalui Pelabuhan Gorontalo kerap menjadi pilihan turis. Sebab hanya butuh waktu semalam mengarungi Teluk Tomini dari Gorontalo, Anda sudah sampai di Wakai. Anda juga akan dimanjakan oleh langit malam yang bertabur bintang gemintang, dan sunrise yang menanti pagi harinya.

Sekitar lewat tengah malam, saya dan Pepen terbangun. Perut seperti memberi sinyal butuh diisi. Bekal milik Wawan, kami hamparkan di lantai beralas matras. Setelah kenyang, kami berkeliling buritan sembari merokok. Ada belasan orang bergelimpangan di lantai. Pulas.

Setelah puas merokok, kami memilih kembali tidur, dengan harapan ketika mata terbuka, cahaya matahari sudah memoles langit pagi.

*

“Bangun. Sudah pagi.” Suara terdengar seiring hentakan di badan saya.

Benar, langit sudah abu-abu. Siluet pulau di kiri dan kanan kapal sudah terlihat. Orang-orang mulai ramai naik ke buritan. Apalagi disusul rombongan mahasiswa itu.

Bule-bule yang tadinya pulas, ikut terbangun. Berbekal air mineral, mereka mengguyur wajah. Tepi buritan menjadi tempat rebutan. Sepanjang jalan, di kiri dan kanan pulau-pulau kecil berjejer karts seukuran rumah berlantai dua, mencuat dari kulit lautan.

Dan, matahari terbit yang per lahan mengintip dari punggung sebuah pulau, memukau semua orang.

“Di sana Wakai,” tunjuk Pepen ke arah haluan kapal.

Tinggal belasan menit lagi kami akan berlabuh di kepulauan yang berada di lidah Pulau Sulawesi ini, setelah mengarungi Teluk Tomini yang kebetulan begitu hening selama perjalanan.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 8 pagi, Rabu 17 Mei 2017, kami sampai di Pelabuhan Wakai. Ada sekitar ratusan rumah beratap seng, terhampar di sekitar pelabuhan. Selesai kru kapal menambatkan tali di pelabuhan, kami turun paling belakangan. Jalan masih panjang setelah ini …

Selengkung Pelangi Sesudah Badai

Di Pelabuhan Wakai, telah banyak guide yang menawarkan jasa mereka, sekaligus yang menyewakan perahu. Sebab dari Wakai, jika tujuan kami ke Pulau Malenge, kami harus naik kapal atau perahu lagi menuju ke sana dengan durasi sekitar dua jam.

“Ayo, menuju pos. Kita daftar nama dulu,” ajak Wawan.

Di pos pelabuhan, kami harus mengisi daftar nama dan menyertakan tujuan. Tidak ada pemeriksaan tanda pengenal. Pendataan bertujuan hanya untuk mengetahui, apakah kami turis atau memang bekerja di tempat tujuan kami. Tidak ada pemungutan biaya. Paling-paling kita disusul orang-orang lokal yang menawarkan jasa angkutan.

Bagi para turis yang baru kali pertama pergi ke Togean, tentunya hal yang perlu dicermati adalah ongkos jasa angkutan. Dari Wakai, jika hendak menuju Pelabuhan Malenge di Pulau Malenge, sebenarnya ada jasa angkutan publik yang biayanya hanya Rp20 ribu per orang. Tapi kebanyakan turis yang enggan menunggu kapal publik, yang beroperasi pukul 2 siang itu, bisa naik perahu mesin dengan harga carteran.

“Biasa satu perahu mesin dicarter bisa sampai 750 ribu. Tapi kita bisa patungan,” kata Wawan.

Karena tidak mungkin kami menunggu kapal publik yang baru tiba pukul 2 siang, sementara kami harus berburu waktu dengan pekerjaan, pagi itu kami ditawari perahu mesin. Kami patungan dengan empat orang bule. Kami bertiga dimintai Rp50 ribu per orang. Entah berapa untuk bule-bule itu.

Setelah sepakat, kami seperahu dengan sepasang turis dari Irlandia, dan dua turis perempuan yang satu berasal dari Australia, sementara satunya lagi berwajah oriental berasal dari Malaysia.

Pemilik kapal, seorang perempuan berkulit legam yang akrab disapa Umi, ikut bersama kami, dengan satu pria guide yang akan menemani dua turis Australia dan Malaysia itu. Ditambah satu pria yang menyetir perahu mesin.

Di dalam perahu, kami saling berkenalan dengan turis-turis itu, berbekal penguasaan bahasa Inggris yang sialnya, kami tidak bisa menggunakan google translete di ponsel pintar kami. Sinyal telekomunikasi hanya di Wakai, dan setelah bertolak dari Wakai, maka ponsel pintar kami menjadi dungu seketika.

Dari percakapan itu, diketahui sepasang turis dari Irlandia adalah musisi reggae. Sudah dua album lagu yang mereka rilis. Sementara turis dari Australia adalah mahasiswi, yang ternyata sekampus dengan turis asal Malaysia itu. Mereka berdua berteman dan berangkat bersama dari Australia.

Tak lama, Pulau Kadidiri sudah di depan mata. Dari Wakai hanya butuh sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai ke Kadidiri. Pulau berpasir putih dengan deretan nyiur dan cotage berbahan kayu, menyapa kami. Sepasang turis Irlandia turun di salah satu cotage di Kadidiri Paradise Resort & Dive, yang berada di antara hutan mangrove.

Pria Irlandia berambut panjang yang diikatnya dan bertopi itu pamit, disusul pacarnya yang memiliki tato mungil bergambar babi di pergelangan kaki kirinya. Sementara kami, masih melanjutkan perjalanan yang akan ditempuh selama sejam lebih lagi, di tengah rintik hujan.

Selain Pulau Kadidiri, ada banyak pulau lain yang memiliki resort. Seperti Pulau Malenge yang menjadi tujuan kami, Pulau Waleakodi, Bolilanga, Batudaka (Bomba), Poyalisa, yang rata-rata hanya memiliki satu resort sebab pulaunya kecil. Tapi di beberapa pulau lain, bisa ditemui pulau dan pantai-pantai berpasir putih tak berpenghuni, dan tak kalah menarik.

Baru beberapa menit perahu kami bertolak dari Kadidiri, hujan deras mulai turun. Setelah itu hujan kembali reda, dan menyisakan gerimis. Tapi angin semakin kencang, dan ombak meruncing.

“Saya sudah bilang, jangan dulu berangkat tadi. Ini musim angin kencang kalau berangkat jam begini,” kata pria yang membawa perahu, dengan bahasa lokal.

Kami bertiga jelas cemas. Sementara turis Australia dan turis Malaysia yang kendati ia paham sedikit bahasa Melayu, tetap tidak mengerti dengan bahasa lokal. Tapi dari mata kedua turis itu, ada kecemasan berdiam.

Ombak dan angin semakin kencang, ketika kami melewati satu pulau berpasir putih tanpa penghuni. Ombak meruncing kira-kira semeter, dan percikan ombak mulai membasahi kami.

“Kita ikut jalan potong saja,” usul pria yang berprofesi sebagai guide.

Pembawa perahu mengambil kesempatan untuk bisa menyerongkan perahu, di tengah terpaan ombak. Kalau tidak lihai, tindakan itu bisa mengakibatkan perahu terbalik.

Saya segera memasukkan kamera dan ponsel ke dalam air bag. Perahu berhasil menyerong dan menuju ke arah hutan mangrove di bibir salah satu pulau. Tapi ternyata yang kami temui adalah jalan buntu.

Setelah perdebatan kecil antara pria pembawa perahu, guide, dan Umi, akhirnya jalan alternatif untuk menghindari ombak dan angin kencang, berada di samping kanan pulau. Kami kembali masuk lautan lalu memutar dan selamat sampai di pintu masuk jalan tersebut.

Hutan mangrove tampak rindang. Air tenang.

“Di sini banyak buaya,” kata Umi menggoda.

Tapi memang dari cerita warga sekitar, selain buaya, banyak ditemui ular di rute alternatif tersebut. Yang lebih ekstreme lagi, ada rute yang satunya lagi. Di sana pohon dan dedaunan mangrove saling merangkul, dan menghalau cahaya matahari. Ular seukuran lengan biasanya berjatuhan dari ranting mangrove.

Mendengar penuturan Umi, yang hanya bisa dipahami kami bertiga, bulu kuduk saya merinding.

Setelah berhasil melewati jalan alternatif itu, kami harus memasuki lautan lagi. Kali ini, ombak nyaris membalikkan perahu kami. Beruntung pria pembawa perahu, tampaknya sudah berpengalaman. Kami sekali lagi melewati jalan alternatif, yang kondisinya hampir sama dengan jalan sebelumnya.

Perjalanan kami itu sudah ditempuh selama dua jam. Seharusnya kami sudah sampai di Malenge jika tidak berkendala.

Lagi-lagi kami harus memasuki lautan dengan cuaca yang belum berubah. Turis Australia yang setiap kali melewati jalan alternatif merekam gambar dengan kamera GoPro miliknya, saat memasuki lautan kamera itu digenggamnya erat sambil menutup mata. Temannya, turis Malaysia yang sedari tadi mengenakan headset karena duduk berdekatan dengan mesin perahu, juga menutup mata sipitnya itu.

“Kita harus berhenti di Desa Katupat,” tunjuk Umi, ke arah sebuah pulau.

Umi menyarankan agar perahu menepi di desa tersebut, dan menunggu sampai cuaca lebih bersahabat untuk bisa melanjutkan perjalanan. Kebetulan ada kerabatnya di sana. Sebenarnya sebelum Desa Ketupat, kami masih akan melewati salah satu pemukiman Suku Bajo.

Sekitar belasan menit berlalu dengan kondisi terombang-ambing, desa Suku Bajo itu kami lewati. Anehnya di desa ini, ombak dan angin kencang tak ada lagi. Ibu-ibu pembawa sampan lalu-lalang.

Setelah melewati desa itu, kami menemui Desa Ketupat. Di desa ini, hujan mulai turun deras.

“Kalau hujan deras begini, angin dan ombak pasti jadi agak lebih tenang,” kata pembawa perahu. Dan ternyata benar, ombak dan angin kencang mereda.

Setelah melewati desa itu, dan kembali memasuki lautan, langit telah cerah dan berawan. Kami lebih banyak tersenyum. Sesekali kami bercanda tentang suasana mencekam yang baru saja terlewati.

Sudah hampir empat jam lebih kami di atas perahu. Kemudian dari kejauhan telah tampak sebuah pulau besar membiru.

“Itu Pulau Malenge,” tunjuk Wawan.

Pulau Malenge ini, termasuk salah satu pulau di Kepulauan Togean. Dari data yang kami–Aliansi Jurnalis Independen Kota Gorontalo–kumpulkan selama penyusunan proposal program, yang didanai Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), dengan dukungan The Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF), untuk kampanye penyadartahuan di Pulau Malenge, Kepulauan Togean yang menghampar sepanjang 90 kilometer terdiri 6 pulau besar dan 60 kecil di sekitar Teluk Tomini.

Di antara pulau-pulau besar yang berada di Kepulauan Togean, di antaranya Pulau Batudaka, Togean, Waleakodi, Unauna, Waleabahi, dan Talatakoh. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, setelah dinyatakan lolos proposal, sejak Maret 2017, tim lapangan mulai melakukan survei pertama kali di Pulau Malenge, yakni di Desa Malenge dan Kadoda.

Setelah itu, bulan berikutnya pada April, tim program memulai kampanye diawali penempelan poster berisi konten pelestarian lingkungan, baik laut dan hutan, di beberapa titik strategis masing-masing desa. Seperti di kantor desa dan kecamatan, sekolah, pelabuhan, dan jalan utama.

Selain menempel poster, diskusi juga dilakukan di rumah warga, dan dibagikan newsletter berisi ajakan untuk melestarikan keanekaragam hayati di Pulau Malenge.

Pulau Malenge memiliki beberapa jenis binatang, seperti rusa, kuskus, tarsius, ketam kenari (Birgus latro), dan lain sebagainya. Sementara untuk fauna endemik Pulau Togean, bisa ditemui biawak togean (Varanus salvator togeanus), monyet togean (Macaca togeanus), dan babirusa togean (Babyrousa togeanensis). Selain itu, ada sekitar 90 jenis burung yang dilindungi dan berkembang biak di rimbunan hutan pulau ini. Di hutan bisa ditemui pula jenis burung khas Togean seperti burung kacamata togean dan burung hantu togean.

Selain kekayaan hutan, Kepulauan Togean memiliki Danau Mariona. Danau unik ini berisis ubur-ubur atau jelly fish yang tidak menyengat. Jika dilihat dari ketinggian, lokasi danau hampir mirip dengan objek wisata Raja Ampat. Ada beberapa pulau kecil yang berserakan di sekitar danau. Di Pulau Malenge juga ada gua kelelawar yang menjadi salah satu tempat kunjungan turis. Sementara di Desa Bangkagi, turis bisa dimanjakan dengan taman anggrek.

Tak hanya itu, kepulauan ini kaya akan terumbu karang dan biota laut yang termasuk langka dan dilindungi. Kepulauan Togean menjadi bagian ekosistem terumbu karang penting dari coral triangle yang meliputi wilayah Indonesia. Ada empat tipe terumbu karang di Kepulauan Togean, di antaranya karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), karang tompok (patch reef), dan karang cincin (atoll).

Tak jauh dari Desa Lebiti, ada bangkai pesawat atau Plane Wreck jenis B24 Liberator dari masa Perang Dunia II, yang diperkirakan mendarat pada 3 Mei 1945. Tak seperti kebanyakan bangkai pesawat, Plane Wreck di Togean masih terbilang utuh, sebab diduga hanya melakukan pendaratan darurat, bukan jatuh. Di sekitar bangkai pesawat juga terdapat terumbu karang yang indah.

Namun sangat disayangkan, kekayaan terumbu karang di Togean, terancam akibat pemboman ikan dan penggunaan racun. Masyarakat yang tinggal di Kepulauan Togean yang terdiri dari Suku Togean, Bajo, Bobongko, dan Saluan, dikenal hampir semua berprofesi sebagai nelayan. Suku Bajo sendiri banyak bermukim di Pulau Papan, Milok, Talakoh, Siatu, Taupan, Enam, dan Salaka. Sementara Suku Saluan tersebar di Pulau Walea, dan Suku Bobongko di Desa Lembanato. Selain suku-suku itu, Suku Gorontalo dan Bugis juga telah banyak yang berdiaspora dan tersebar di Kepulauan Togean.

Masyarakat Suku Bajo yang dikenal memiliki pemukiman di atas laut ini, seiring waktu direkati stigma perusak ekosistem laut karena penggunaan bom ikan secara masif. Kendati sebenarnya banyak pula ditemui sebagian Suku Bajo yang turut andil dalam pelestarian ekosistem laut, seperti Suku Bajo di Desa Torosiaje, Provinsi Gorontalo, yang sekarang ini dikenal dengan pelestarian hutan mangrove di sekitar tempat mereka tinggal.

Setelah hampir 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai di Pulau Malenge. Kami disambut selengkung pelangi di atas pulau yang berseberangan dengan Pulau Malenge.

Kedua turis itu, rencananya akan menginap di resort di Pantai Malenge. Salah satu pantai dari beberapa pantai berpasir putih yang mengitari pulau tersebut.

Melihat bibir Pelabuhan Malenge, hati saya lega seketika. Perahu yang kami tumpangi bersandar di depan rumah pemilik resort Pantai Malenge. Dari sana, kami akan diantar dengan perahu milik resort.

Kami bertiga akan menuju Pulau Papan di Desa Kadoda. Dalam perjalanan kami akan melewati Pantai Malenge. Tapi kedua turis dan guide itu, akan diantar setelah kami.

Akhirnya, teriakan seorang bocah dari salah satu rumah di Pulau Papan kepada Wawan, seakan memupus perjalanan panjang nan melelahkan itu.

Bocah berusia sekitar tiga tahun itu bernama Ipong. Ia menyambut Wawan yang sudah akrab dengannya. Rumah yang kami singgahi dan tinggali, milik Kepala Desa Kadoda, pamannya Ipong.

Setelah berpindah pijakan dari perahu ke rumah, kami lantas berpamitan kepada teman seperjalanan kami.

“Have a nice trip,” ucap turis Australia.

Kami mengucapkan kalimat yang sama, berterima kasih, lalu melambaikan tangan, yang disambut pula dengan lambaian tangan oleh keduanya.

Pulau Papan Nan Menawan

Di pondok rumah yang dibangun di atas permukaan laut itu, kami menikmati suguhan kopi dan pisang goreng. Resort Lestari dengan pantai berpasir putih di seberang, memupus tatap. Menjelang sore hari setelah berbincang dengan tuan rumah, kami diajak ke kamar yang telah disediakan. Kami melepas lelah perjalanan dengan dengkur.

Semalaman kami tidur nyenyak. Sesudah azan Subuh, Kamis 18 Mei 2017, saya dan Pepen terjaga lalu menuju dapur. Mama Isran–tuan rumah yang kami tinggali–, sedang membungkus nasi kuning dengan dedaunan pisang di dapur.

“Berapa satu bungkus, Mak?” tanya saya.

Mama Isran mengatakan per bungkus ia hargai Rp2 ribu saja. Sebab nasi kuning yang ia jual, biasa dibeli untuk bekal anak-anak pergi ke sekolah.

Setelah melahap dua bungkus, saya dan Pepen membawa tenda mungil menuju puncak Pulau Papan. Langit saat itu bergradasi dari hitam menjadi abu-abu, menuju terang. Pulau Papan ini kira-kira hanya seluas lapangan sepak bola, dan puncaknya merupakan salah satu tempat andalan bagi para turis.

Dari rumah yang kami tinggali, hanya sejauh tendangan bola plastik saja, kami sudah sampai di anak tangga alami dari bebatuan. Sekitar dua puluh dakian, kami sudah berada di atas puncak yang hanya ditumbuhi dua sampai tiga pohon itu.

Pepen segera mendirikan tenda, lalu kami menunggu sunrise. Di bawah, tampak beberapa rumah lampunya masih menyala. Biasanya yang listriknya bisa bertahan sepagi itu, mereka yang memiliki genset sendiri. Sebab di Pulau Papan, satu dusun tersebut hanya berharap dari mesin pembangkit listrik bertenaga solar, yang pembelian solarnya atas swadaya warga.

Listrik hanya bisa dinikmati menjelang Magrib sampai pukul 10 malam. Sama seperti dua dusun lainnya di pesisir pantai, yakni Dusun Kadoda dan Balantak. Satu-satunya tempat yang setiap malam hingga pagi hari bermandikan cahaya lampu, ialah Resort Lestari di seberang pulau.

Beberapa menit kemudian, matahari naik perlahan dari punggung siluet sebuah pulau. Jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Papan dengan pulau seberang, terlihat seperti segaris urat di lautan. Panjang jembatan itu hampir sekilo. Pulau ini surga.

Siangnya, kami gunakan waktu untuk membagikan newlsetter di dua lokasi di Dusun Kadoda dan Balantak yang berada di pesisir. Kami harus melewati jembatan panjang yang jadi sarana lalu lintas warga dan anak-anak sekolah dari Pulau Papan.

Pusat pemerintahan Desa Kadoda berada di Dusun Kadoda. Karena itu, bangunan sekolah dan kantor desa, didirikan di sana. Kedua dusun itu memiliki pantai pasir putih yang airnya begitu jernih. Pohon kelapa rata-rata setinggi atap rumah berjejer sepanjang pantai.

Setelah menemui masing-masing kepala dusun, dan juga membagikan newsletter di sekolah dan kantor desa, kami kembali ke Pulau Papan, untuk menyiapkan alat pemutaran film dokumenter.

Dalam perjalanan kembali ke Pulau Papan, kami bertemu Lin, traveller perempuan asal Tiongkok, yang memilih tinggal di salah satu rumah warga di Dusun Kadoda. Kami mengajak ia untuk menonton film dokumenter di Pulau Papan, nanti malam. Ia mengiyakan.

Sore itu, sesampainya di rumah Mama Isran, tampak beberapa ibu-ibu, remaja, dan anak-anak berkumpul. Mereka mengajak kami menuju pantai di Resort Lestari. Di sana setiap sorenya, warga Desa Malenge dam Kadoda biasanya bertarung main sepak takraw, bola voli pantai, dan tenis meja.

Sebelum pantai itu dibangun resort, dulunya lokasi itu menjadi tempat warga bermain bola. Tapi setelah disewakan, akses ke pantai sudah dibatasi. Baru belakangan, pemilik resort mulai mengajak warga sekitar untuk meramaikan resortnya.

“Pengunjung resort juga nanti jalan-jalan ke Pulau Papan. Kalau kami tidak diizinkan ke pantai, warga juga bisa menolak pengunjung resort jalan-jalan ke sini. Karena itu pemiliknya akhirnya melunak,” kata Papa Dede.

Sampan kayu telah disiapkan untuk kami bertiga menyeberang ke resort. Dan kami akan diseberangkan anak-anak yang rata-rata baru berusia 7-8 tahun.

Selama perjalanan yang singkat itu, sebab jarak dari Pulau Papan ke resort hanya sekitar 50an meter, saya merasa was-was. Berbanding terbalik dengan tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki yang bertugas mengayuh sampan.

Mereka tertawa melihat tingkah kami yang ketakutan, dan sesekali menggoda dengan menggoyang-goyangkan sampan. Pepen terlihat santai, kendati ia pernah mengalami kejadian perahu terbalik sewaktu di Pulau Saronde, Gorontalo. Sementara saya dan Wawan, terus menegur tingkah bocah-bocah itu, tentunya dengan tawa yang tiada hentinya.

Akhirnya bibir pantai sudah di depan mata. Saya segera meloncat setelah mengira-ngira tinggi air, hanya seukuran lutut orang dewasa.

Anak-anak dari sampan lain juga telah bersandar. Ibu-ibu dan remaja yang juga telah sampai, segera mengatur tim untuk bermain bola voli dan sepak takraw. Remaja laki-laki lainnya memilih tenis meja. Sementara anak-anak memilih bermain pasir di pantai, ayunan, dan sepak bola plastik. Saya, memilih mengelilingi pantai dan lokasi resort.

Di dermaga kecil tempat kapal atau perahu bersandar, ada pondok berayunan jaring. Di pesisir pantai, tepat di bawah pohon kelapa tak berbuah, ada beberapa meja dan kursi-kursi dari batang kelapa, yang tersebar sepanjang pantai berpasir putih. Panjang pantai kira-kira hanya seratus meter lebih.

Saya berjalan menyusuri sekitar tujuh sampai delapan cotage berbahan kayu, yang berjejer tepat di kaki bukit pulau, hingga tiba di bagian belakang resort. Ada bangunan serupa kafe dengan meja prasmanan membentang. Tepat di sampingnya, dua buah speedboat terparkir.

Ternyata di belakang resort, ada pemandangan indah lainnya. Ada sebuah teluk kecil, dengan air laut yang begitu bening. Saking beningnya; rerumputan, keong, dan bintang laut di dasar tampak jelas.

Di samping kiri resort, ada bukit kecil yang jika didaki, hanya butuh belasan langkah saja. Kami bertiga menaiki bukit tersebut. Di atas, pemandangan tak kalah menariknya. Beberapa pohon digantungi ayunan. Dari ayunan, mata kita dimanjakan hutan di seberang pulau, nyanyian burung, hembusan angin, dan beningnya air laut yang direnangi beberapa orang turis.

Setelah puas, kami bertiga kembali turun dan bergabung dengan warga yang tengah asyik, dengan masing-masing olahraga pantai. Turis-turis asing tampak senang menonton permainan mereka. Saya lantas memilih mandi bersama belasan bocah.

Beberapa bocah saat saya tanyai, mengaku pernah mendapati perlakuan yang kurang baik dari turis-turis lokal. Saat mereka berada di jembatan panjang, yang tepiannya juga menjadi tempat snorkeling, ada sekelompok turis lokal yang melemparkan koin ke laut, lalu menyuruh anak-anak melompat dan berlomba-lomba memunguti koin.

Hal itu membahayakan, sebab air laut di tepian jembatan hanya berkisar setinggi satu meter, dengan dasar laut terdiri dari karang. Anak-anak yang mengaku diperlakukan seperti itu, kerap disusul oleh masing-masing orangtua mereka.

“Mama bilang ke mereka (turis lokal) kalau mau kasih uang, kasih langsung saja. Tidak usah dilempar-lempar ke laut,” cerita seorang bocah menirukan perkataan ibunya.

Sore itu, dari pantai, Pulau Papan dan jembatan panjang terlihat indah. Sebelum langit gelap, kami memilih pulang. Saat perjalanan pulang, masih dengan bocah-bocah lucu nan iseng itu, kami mendapati satu sampan yang ditumpangi tujuh orang anak-anak terbalik. Kedalaman air laut di sekitar situ, hingga delapan meter. Dan bocah-bocah yang berserakan di tepian sampan terbalik itu, hanya menertawakan kejadian yang menimpa mereka, sembari sibuk membalikkan sampan, lalu menguras air.

“Awas! Ada buaya!” teriak seorang remaja dari sampan lain, yang melewati anak-anak itu.

Hingga kami sampai di rumah, anak-anak yang sampannya terbalik itu tinggal tersisa dua orang saja. Lainnya memilih berenang. Tak lama kemudian sampan telah siap dikayuh. Kedua bocah itu tertawa keras.

Saya, dari pondok, ikut tertawa melihat kejadian itu. Ah, betapa anak-anak itu begitu menikmati hidup.

Bertukar Kisah dengan Orang Pesisir

Sebelum azan Magrib berkumandang di surau, kami mulai sibuk menyetel proyektor dan layar. Program kami di Pulau Malenge terdiri dari dua desa dampingan, masing-masing Desa Malenge yang kami singgahi pertama kali tiba di Pulau Malenge, dan Desa Kadoda yang salah satu dusunnya ialah Pulau Papan yang kami tinggali saat ini.

Kampanye penyadartahuan kami, selain menyasar masyarakat yang kerap berburu hewan endemik seperti babirusa togean dan monyet togean, juga untuk mengajak masyarakat pesisir agar terlibat dalam melestarikan ekosistem laut.

Di Desa Kadoda, yang berpenduduk sekitar 900 jiwa, masyarakatnya selain berprofesi sebagai nelayan, juga mereka membuka lahan pertanian di Pulau Malenge dan pulau-pulau sekitar.

Desa Kadoda untuk dua dusun di pesisir, yakni Kadoda dan Balantak dikenal sebagai nelayan tradisional, juga petani. Mereka lebih arif ketika menjadi nelayan, dengan hanya menggunakan pancing khusus untuk ikan demersal. Namun ketika menjadi petani, tak sedikit dari mereka yang memburu monyet togean karena dianggap hama. Sesekali jerat yang dipasang mereka untuk babi hutan, juga berhasil menjerat babirusa togean. Karena mayoritas muslim, otomatis mereka tidak memakan atau menjual buruan mereka, tapi membunuh lalu menguburkan bangkai hewan-hewan tersebut.

Sementara warga di Pulau Papan yang berprofesi sama–nelayan dan petani–, ada beberapa yang sering menggunakan bom ikan dan racun. Namun beberapa dari mereka mengaku pensiun sebab pernah mengalami kejadian tragis.

“Di salah satu rumah warga ada bom ikan meledak,” cerita Papa Dede, pria berkeluarga yang kerap mendampingi kami di Pulau Papan.

Di Kepulauan Togean sendiri ada Desa Kabalutan namanya, yang dikenal kerap membom ikan di laut. Bahkan jika kita berkunjung ke desa tersebut, ada beberapa warga yang kaki dan tangan mereka buntung, akibat bom ikan.

Ada beberapa kisah lain yang mampu memeras airmata ketika mendengarnya. Entah kejadian ini nyata, namun bola mata penuturnya berkaca-kaca, ketika menceritakannya kepada kami.

Ceritanya, suatu malam seorang nelayan ditemani istrinya, pergi meracun ikan. Keduanya berhasil diciduk petugas patroli setempat. Ada sebuah cairan di dalam botol yang digunakan untuk meracun ikan. Ketika ditanyai petugas, nelayan itu berusaha mengelabui petugas dengan mengatakan botol itu berisi air minum.

Petugas coba memastikan dengan menantang nelayan itu untuk meminumnya, jika benar botol itu berisi air. Pria itu–mungkin demi menghidari bui–meminum isi botol. Karena nelayan itu meminumnya, petugas lantas melepaskan pasutri itu.

Beberapa hari kemudian, pria itu dikabarkan sering muntah darah. Tak berselang lama ia meninggal.

Saya, ketika mendengar cerita itu, berada pada posisi dilematis. Nelayan itu hendak meracun ikan, yang tentunya melawan hukum, sebab selain membunuh anak-anak ikan, juga merusak terumbu karang yang menjadi rumah dan tempat bertelur ikan-ikan. Namun di lain sisi, nelayan itu terpaksa harus meregang nyawa, akibat meminum racun tersebut, dan meninggalkan anak-istrinya.

Selesai azan Isa, kami mulai menyetel alat. Sebuah layar dari baliho bekas kegiatan di desa, dibentang di dinding rumah papan Mama Isran, yang juga rumah Kepala Desa Kadoda itu. Layar tepat menghadap laut dan Resort Lestari.

Awalnya kami mengalami kendala, sebab pembangkit listik milik dusun, tidak mampu ketika proyektor dicolok. Beruntung ada genset yang sukarela dipinjamkan warga.

Malam itu, satu per satu orang mulai berkumpul. Puluhan orang berjejer di bangku panjang pondok, sementara lainnya memilih melantai. Selain orang dewasa, anak-anak ikut meramaikan pemutaran film. Tapi hingga film diputar, traveller asal Tiongkok, Lin, tak kunjung datang. Mungkin karena jarak tempuh dari dusunnya menuju Pulau Papan harus melewati jembatan. Apalagi pemutaran film pada malam hari. Jadwal pemutaran sengaja kami pilih malam, sebab siang hari warga beraktivitas.

Malam itu ada dua film dokumenter bertema lingkungan yang diputar. Film pertama berjudul Healthy Ocean for Life (https://www.youtube.com/watch?v=u8XmR8npxn8), produksi USAID-IMACS Indonesia yang diedit dan disutradarai Nanang Sujana.

Film itu bercerita soal keanekaragaman hayati bawah laut yang ada di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Selain potensi kekayaan alam yang ada di daerah itu, film ini juga menceritakan tentang pemanfaatan dan pelestarian terumbu karang, mangrove, dan keterlibatan lembaga adat untuk menjaga ekosistem laut yang ada di wilayahnya.

(https://www.youtube.com/watch?v=N1jZhwwh8c0). Film ini bercerita tentang pelestarian dan pemanfaatan hutan yang ada di Desa Bangkagi, Kepulauan Togean. Dalam film ini, masyarakat ikut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan, dengan membuat aturan-aturan adat terkait pelestarian. Film ini diproduski Nanang Sujana untuk Green Peace dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Tujuan menjaga kelestarian hutan di Bangkagi dalam film itu, agar sumber mata air bisa terjaga, dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal termasuk energi terbarukan. Film ini relevan dengan masyarakat yang ada di Pulau Malenge, sebab masyarakatnya juga memanfaatkan sumber mata air di pulau, sebagai penghidupan atau kebutuhan air bersih sehari-hari. Ada pipa-pipa air yang mengurat di dasar laut di antara masing-masing pulau.

Kami juga menyisipkan beberapa film dari Ekspedisi Indonesia Biru, produksi WatchdoC. Setelah pemutaran film, kami berdiskusi dengan warga. Saya menyampaikan sepatah dua kata, terkait film yang baru saja kami putar. Dilanjutkan dengan menanyakan apa saja kendala masyarakat di Pulau Papan, terkait menjaga keanekaragaman hayati di sekitar.

“Ah, kalau monyet itu hama! Mau pilih mana, mereka yang punah atau kami?” kata seorang bapak berjaket kuning, dengan nada tinggi. Belakangan diketahui bapak itulah yang meminjamkan genset untuk pemutaran film.

Di saat-saat seperti itu, rasanya kami diperhadapkan dengan kondisi sosial yang jauh berbeda dengan kehidupan kami di perkotaan. Saya berusaha memberi penjelasan sesederhana mungkin, bahwa monyet togean dan babirusa togean, selain dilindungi dan bisa dikenakan sanksi hukuman pidana bagi pemburu atau pembunuhnya, juga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem di pulau.

Punahnya satu jenis satwa, tentunya akan meningkatkan populasi binatang lain. Apalagi satwa yang punah tersebut jenis predator. Hal itu mengakibatkan rusaknya keseimbangan alam.

Sama seperti yang terjadi ketika medio 1958, di Tiongkok. Mao Zedong sebagai Pemimpin RRT (Republik Rakyat Tiongkok) memerintahkan pemusnahan burung gereja, yang diyakininya banyak memakan biji-bijian, terutama bulir padi.

Dalam kampanye yang disebut The Four Pests Campaign atau kampanye Empat Hama, yang merupakan bagian dari Lompatan Besar Ke Depan (Great Leap Forward) antara 1958 – 1962, semua rakyat diminta memusnahkan burung gereja jenis Eurasian Tree Sparrow.

Salah satu cara yang digunakan, dengan memukul drum dan gendang sekeras-kerasnya, untuk menakut-nakuti burung. Cara tersebut efektif sebab membuat burung-burung itu terus terbang hingga mati kelelahan. Selain itu semua sarang-sarang burung ikut dihancurkan, dan masyarakat dilatih menembak burung.

Alhasil, setelah burung-burung itu hampir punah, tahun berikutnya, masalah serius muncul. Populasi serangga yang biasa menjadi makanan burung-burung tersebut meningkat. Persebaran serangga tak terkendali akibat tidak adanya lagi hewan predator. Serangga merusak tanaman padi dan mengakibatkan rakyat kelaparan. Akhirnya, perintah membunuh burung gereja itu ditarik.

Di Pulau Malenge sendiri, sebenarnya ada salah satu solusi yang mungkin bisa mengurangi pembunuhan monyet togean dan babirusa togean, yang dianggap merusak pertanian warga. Misal, menanam pohon salak mengelilingi areal kebun, guna mencegah monyet dan babi masuk.

Sebab sebenarnya, monyet dan babi yang merusak pertanian milik warga, diakibatkan ulah manusia juga. Warga di Pulau Malenge yang membuka lahan di hutan pulau, membuat wilayah mencari makanan hewan-hewan tersebut semakin sempit. Otomatis, lahan-lahan pertanian warga dimasuki sebab tidak ada lagi makanan mereka di hutan, yang pepohonannya juga sudah ditebang.

Selain mendiskusikan persoalan hutan, warga juga mempertanyakan sikap pemerintah khususnya dari Balai TNKT, yang dari penetapan wilayah taman nasional, mengakibatkan batas-batas wilayah tangkapan ikan mereka berkurang.

Menurut warga, Balai TNKT harus terjun langsung mendiskusikan hal tersebut dengan warga. Sebab sejak penetapan TNKT 2004 lalu, hal tersebut mengakibatkan konflik berkepanjangan dengan belasan desa di sekitar Kepulauan Togean.

Sebagian warga juga menyesali sikap pemerintah, yang kerap mengabaikan permasalahan sampah di daerah pesisir seperti di Pulau Papan. Rata-rata rumah warga yang berada di atas laut, menyebabkan sebagian warga terpaksa membuang sampah ke laut, sebab tidak adanya fasilitas yang disediakan pemerintah.

Menurut warga, Kepulauan Togean yang menjadi destinasi pariwisata dan ikut meningkatkan pendapatan daerah, harusnya dinas terkait, misal, Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Pariwisata, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulteng, bisa memfasilitasi apa saja yang menunjang di setiap titik lokasi pariwisata. Khususnya tong sampah untuk warga atau Suku Bajo yang rumahnya di atas laut.

Diskusi malam itu ditutup dengan pemutaran film hiburan, yang diminta oleh warga sendiri. Namun, sepertinya warga lebih tertarik dengan dua film dokumenter yang kami sajikan, dibanding film hiburan yang kami putar. Satu per satu warga memilih pulang, sebab laut menunggu mereka esok hari.

*

Besoknya, Jumat 19 Mei 2017, kami harus menyiapkan alat-alat untuk pemutaran film di Dusun Kadoda. Warga di sana meminta kami, sebab lokasi pemutaran di Pulau Papan menurut mereka selain pada malam hari, juga mereka harus melewati jembatan panjang. Mereka mengaku tidak bisa meninggalkan rumah, apalagi anak-anak.

Malamnya pemutaran film di Dusun Kadoda dihadiri Lin. Beruntungnya, film yang kami putar berisi teks terjemahan bahasa Inggris, jadi Lin paham dengan maksud film.

Diskusi sesudah pemutaran film, hampir sama dengan diskusi malam sebelumnya di Pulau Papan. Masyarakat di Dusun Kadoda juga menceritakan beberapa pengalaman mereka.

Salah satu warga mengaku, memiliki kerabat yang bekerja di salah satu resort di Pulau Malenge. Ia pernah diajak ke resort itu. Di resort tepat di samping dapur, dibangun kurungan berterali besi untuk menjebak monyet. Tak sedikit monyet togean yang berhasil dijebak masuk, dengan taburan buah pisang di dalam perangkap.

Ia pernah sangat sedih, karena saat monyet-monyet itu dibantai, ada seekor monyet betina sambil memeluk satu bayinya seolah-olah memohon untuk tidak dibunuh. Tapi pemilik resort tanpa ampun menyuruh pekerja menusukkan lembing, ke perut monyet tersebut. Setelah monyet betina tewas, bayinya tampak mendekati ibunya lalu menyusu. Kemudian disusul hujaman lembing di punggung bayi monyet.

Bapak yang menceritakan kisah itu kepada saya, mengaku setelah melihat kejadian itu, ia memilih untuk tidak terlibat lagi ketika ada warga yang ingin memasang jerat atau perangkap, dan membunuh monyet-monyet itu.

Namun menurut pengakuannya, sekarang perangkap kurungan di resort tidak digunakan lagi. Hal tersebut berlaku setelah ada dua turis asing yang menyarankan untuk tidak memakai perangkap lagi. Disusul sedikit pencerahan, bahwa turis yang berkunjung ke resort selain ingin menikmati pantai dan pesona bawah laut, mereka juga ingin trekking ke hutan melihat satwa-satwa yang dilindungi itu.

Di saat itulah, saya teringat sajak Wiji Thukul yang tertulis di kaus saya: ini tanah airmu, di sini kita bukan turis. Turis asing terkadang lebih arif ketimbang kita, si pemilik negeri ini. Apalagi persoalan sampah. Selama di Togean, saya banyak mendapati bule yang memilih makan pisang lalu membuang kulitnya di laut. Sementara turis-turis lokal, kebanyakan makan kudapan berbungkus plastik, lalu melempar bungkusan seenaknya ke laut.

Diskusi selesai sekitar pukul 10 malam. Warga sekitar yang memilih bertahan menonton film hiburan, hanya lima sampai enam orang saja. Setelah itu, di tengah malam yang hening, kami membelah laut menuju Pulau Papan, dengan perahu mesin yang dikendarai Papa Dede. Besok pagi, kami harus berpindah tempat ke Desa Malenge.

Pulau Malenge dan Keceriaan Anak-Anak

Setelah makan siang, kami pamit kepada Mama Isran dan Papa Isran, dan anggota keluarga lainnya. Juga kepada si kecil Ipong.

Siang itu, Sabtu 20 Mei 2017, kami meninggalkan Pulau Papan, diantar Papa Dede. Kami menuju Desa Malenge dengan perahu mesinnya. Hanya sekitar puluhan menit, kami sudah sampai di bibir rumah Mama Awan. Ia kerabatnya Papa Dede. Rumahnya menjadi tempat persinggahan kami selama di Desa Malenge.

Mama Awan dan suaminya yang akrab disapa Papa Kede, menyambut dengan suguhan kopi. Setelah berbincang lama, Papa Dede akhirnya pamit kepada kami. Semua barang bawaan kami diminta Mama Awan untuk dibawa ke kamar depan.

Tak berselang lama, kami melanjutkan tugas dengan menyurvei lokasi pemutaran film. Desa Malenge yang berpenduduk hampir sama dengan Desa Kadoda, sekitar 900an jiwa, tak memiliki pantai berpasir putih. Tapi di desa ini, hampir semua warga menikmati listrik sehari penuh. Rata-rata setiap rumah memiliki panel surya di atap.

Desa Malenge memiliki pelabuhan kecil. Desa ini memunggungi langsung lebat hutan Pulau Malenge. Pulau yang dijuluki Pulau Monyet, dan pulau yang kerap ditemukan ular berbagai jenis.

Setelah belasan menit mengitari desa, akhirnya kami memilih lokasi pemutaran film di pelabuhan. Kami juga berhasil mendapatkan genset, dari seorang aparat desa.

Sorenya, kami menikmati suasana pelabuhan. Belasan anak-anak, tampak bermain di pelabuhan. Ada yang memancing, mandi sambil meloncat girang, menangkapi ikan-ikan yang tampak jelas karena air laut begitu jernih, juga menangkapi bulu babi atau landak laut.

Berpuluh-puluh kali anak-anak itu meloncat dari tepi pelabuhan, naik lagi, meloncat lagi, tapi tak tampak mereka lelah. Sesekali anak-anak itu salto sambil berteriak. Kedalaman air di sekitar pelabuhan sekitar enam meter. Tapi itu tak membuat mereka takut. Dasar anak-anak pulau.


Keceriaan anak-anak Pelabuhan Malenge – Foto: Sigidad
Seorang anak mendekati saya lalu menunjukkan ikan hasil tangkapannya, yang terlihat unik. Ikan seukuran sabun batang itu, berkulit tebal dan berwarna abu-abu dengar garis-garis kuning kemerahan. Siripnya tajam di kiri kanan, dan di punggungnya ada serupa tanduk. Mulutnya monyong.

“Ini bisa dimakan, nanti dikupas kulit tebalnya. Rasanya seperti daging ayam,” kata anak itu.

Ia juga memunguti landak laut tanpa takut terkena bisa. Ia memainkan landak laut itu di atas telapak tangannya dengan hati-hati. Bulu-bulunya yang meruncing, sesekali ia jepit dengan jemari lalu memainkannya seperti bandul. Menurutnya, landak laut juga bisa dimakan.

Sore itu, pelangi tampak melengkung di pulau seberang. Nelayan-nelayan satu per satu merapat ke pelabuhan dan rumah masing-masing, yang berdiri di atas laut. Orang-orang tua menjemput anak-anak mereka, lalu malam pun tiba.

Pemutaran film dokumenter kali ini berjalan lancar. Masyarakat pun terlihat antusias. Dibandingkan saat pemutaran di dua dusun di Desa Kadoda, di Desa Malenge warga yang hadir lebih banyak lagi. Diskusi sesudah film diputar pun berjalan alot dengan masalah yang hampir sama.

Menurut warga Desa Malenge, mereka pun sebenarnya sudah jarang menangkap ikan dengan bom. Sebab di pelabuhan, biasanya pembeli lebih memilih ikan yang bukan dari hasil bom atau racun.

Selain itu, untuk masalah monyet dan babi yang dianggap hama, warga juga mengaku serba salah. Namun mereka menyadari, membunuh satwa-satwa dilindungi bisa dijerat hukum.

Pemutaran film juga dihadiri seorang traveller asal Itali. Namanya Paul. Ia memilih mendirikan tenda di pelabuhan, menunggu kapal publik dini hari. Saat menonton ia mengaku senang dengan isi film.

Sesudah diskusi dan pemutaran film hiburan, Mama Awan dan Papa Kede, bersama anak mereka Awan yang masih sekolah dasar, mengajak kami untuk makan malam.

“Makan dulu, nanti balik lagi,” kata Mama Awan.

Mereka menemani kami bertiga saat menuju rumah. Setelah makan, kami ditemani lagi kembali ke pelabuhan, untuk memastikan apakah film hiburan telah selesai. Warga yang tersisa tinggal enam sampai tujuh orang, sampai film selesai. Paul juga telah tidur di tenda.

Setelah dibantu beberapa warga mengemas alat-alat, kami pamit dan menuju ke rumah Mama Awan lagi. Saya memilih tidak tidur malam itu. Saya menghabiskan sisa malam duduk berbincang dengan Papa Kede.

Hingga pagi menjelang, Minggu 21 Mei 2017, Pepen dan Wawan saya bangunkan untuk segera berkemas. Kami harus menuju pelabuhan, untuk menunggu kapal publik yang akan menuju Wakai.

Setelah pamit kepada Mama Awan dan Papa Kede, kami menuju pelabuhan dengan nafas lega. Akhirnya semua tugas telah ditunaikan. Tapi perjalanan pulang masih panjang. Sesampainya di Pelabuhan Wakai nanti, kami harus menuju Pelabuhan Ampana. Sebab kapal feri menuju Gorontalo tidak beroperasi karena diservis atau perawatan.

Dari Ampana, kami harus melanjutkan perjalanan darat selama lima jam menuju Luwuk. Pelabuhan Pagimana akan kami lewati, sebab kami masih menunggu jadwal kapal feri yang akan berangkat dari Pelabuhan Pagimana menuju Gorontalo, Senin 22 Mei 2017.

Kota Luwuk akan menjadi persinggahan kami selama semalam. Dan selama perjalanan dari Ampana menuju Luwuk, teman-teman saya kembali disibukkan ponsel pintar mereka masing-masing. Sementara saya, terlalu asyik memotret setiap tempat yang dilewati. Apalagi, ponsel saya mati total sejak berada di Pulau Papan. Tapi harga ponsel itu tak sebanding dengan sebongkah ‘berlian’ yang saya temukan di Kepulauan Togean.

Kepulauan Togean, adalah ‘berlian’ itu sendiri. Keindahan ‘berlian’ di Teluk Tomini yang semoga saja bertahan dari keserakahan manusia. (*)

Friday, March 2, 2018

Puisi untuk Braga

Dua puisi ini hasil interpretasi lagu-lagu Beranda Rumah Mangga (Braga). Salah satu grup band di Kotamobagu.

Puisi interpretasi lagu "Di Kedai Ini":

JANJI

Menunggu, satu kata yang terlalu karib dengan cinta. Seperti malam ini, mataku tersimpul di ujung jalan. Menit demi menit, tapi semua paras yang hadir tampak asing. Selain dirimu, yang lain hanyalah kosong.

Aku menunggumu, di kedai dengan secangkir kopi yang kusesap berjeda harap. Aku mengadu kepada bulan pucat di langit. "Apakah seperti ini rindu serigala kepadamu?"

Langit malam berganti-ganti rupa. Bintang gemintang jatuh satu demi satu. Tapi tak ada satu pun yang menyebut namamu. Aku mulai ragu, kau memang tak akan pernah datang.

Aku berpikir harus mengirim pesan kepadamu, 'tuk bertanya kesekian kali. Tapi aku malu kepada lampu-lampu yang sedari tadi tersipu-sipu. Apalagi, janji tak perlu dikutuk berkali-kali. Cukup sekali.

Kereta api, 2017

Puisi interpretasi lagu "Patah Menjadi Air Mata".

RESI

Seorang resi dengan mata diitari alit gulita, bersila di atas embun. Matanya tak pernah terbuka lagi, tapi ia mengenal seribu warna. Bermacam cuaca yang melukiskan warna-warni itu sedari masa kecilnya.

Matahari pernah membuat rambut saljunya kering seperti ranting. Patah hanya oleh desau angin. Membikin bulir air matanya mengalir dan mencipta telaga biru.

Layung pada setiap kali senja lingsir di punggungnya yang kerap getir. Tapi derita hidup per lahan mengubah raganya menjadi logam. Bertahan seperti garis-garis tangan dalam genggam.

Barangkali, seorang resi ditakdirkan sendiri. Agar bisa ruah berbagi. Pada tanah yang menumbuhkan rerumputan dan cendawan. Atau pada telinga-telinga yang mampu menangkap sunyi.

Kamar mandi, 2017

Sunday, February 25, 2018

Gajah, Gajah Apa yang Paling Bersih?


“Tebak-tebakan gajah dan cerita lainnya.”

Kanibal

Ungke sedang asyik selonjoran di beranda, kemudian Utu yang kebetulan lewat mampir.

“Dari mana ngana?” tanya Ungke.

“Dari warong.”

Melihat Ungke sibuk dengan ponselnya, Utu menggoda kawan satunya itu.

“Eh, Ungke, ngana tahu arti kata kanibal?” tanya Utu, yang berdiri di samping Ungke.

Ungke mendongak, “Ya, nintau no (tidak tahu).”

“Masak le? Kalu bagitu, skarang kita mo tanya pa ngana. Misalnya ngana bunung (bunuh) kong ngana, makang pa ngana pe mama deng papa, orang-orang mo pangge (panggil) apa dang pa ngana?”

“Yatim piatu, noh.”

Pil KB

Kakak ipar Ungke mengandung lagi. Namanya Brenda. Karena suaminya baru saja ke luar kota, Brenda meminta tolong Ungke mengantarnya ke bidan.

Sesampainya di klinik, bidan bertanya kepada Brenda, “Bukang ngana yang beberapa bulan ada datang minta pil KB?”

“Iyo, kita no, bidan,” jawab Brenda.

“Trus… skarang ada kiapa?”

“Kita hamil ulang.”

“Tu pil KB kita kase pa ngana dang, nyandak (tidak) minum?” tanya bidan heran.

“Bagimana nyandak mo hamil, pil baru ada di leher, calana so sampe (sampai) lutut.”

Kacamata

Besoknya, gantian pamannya Ungke, Bonza, yang meminta bantuan untuk diantar ke klinik dokter mata.

“Om Bonza jarak 10 meter so nyandak mo dapa lia (lihat) orang. Sedang ngana tadi nanti so dekat baru Om kenal,” curhat pamannya.

Sesampainya di klinik, dokter mata segera memeriksa Om Bonza.

“Sebelumnya so pernah pake kacamata?” tanya dokter.

“Blum, Dok.”

“Nah, coba badiri situ. Baru haga (pandangi) huruf apa itu?” tanya dokter itu, sambil menunjuk poster yang berjejer huruf-huruf dan angka-angka, dari ukuran paling besar sampai yang terkecil.

“Adoh, nyandak jelas huruf apa,” kata Om Bonza sambil menggaruk-garuk kepala.

“Kalu ini?” sekali lagi dokter menunjuk huruf yang lebih besar ukurannya.

“Nyandak jelas le, Dok.”

Hampir semua huruf dan angka ditanyakan dokter itu, tapi Om Bonza kerap menjawab:
nyandak jelas.

“Masak samua nyandak jelas?” tanya dokter itu heran.

“Kita nyandak skolah kwa, Dok. Jadi nintau (tidak tahu) ba baca.”

Terserempet Angkot

Ungke punya adik bernama Boni. Suatu hari, Boni yang masih SD itu pulang sekolah dengan tangan dan kaki penuh lecet.

“Kiapa ngana ini?” Ungke memilin-milin pelan lengan adiknya, melihat-lihat lecet itu.

“Tadi ada oto mikro (angkot) sambar pa Boni,” adu Boni.

“Kong tu sopir nyandak bawa ka puskesmas?”

“Nyandak, Kak. Cuma lecet bagini kwa. Mar sopir kase 200 ribu pa Boni,” ceritanya, sambil menunjukkan dua lembar uang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Besoknya, sepulang sekolah, Boni heran melihat kakaknya berdiri di tengah jalan. Apalagi, ada mobil truk dengan kecepatan tinggi, melaju ke arah kakaknya.

“Kak! Awas ada trek! (truk)” teriak Boni.

“Ba diam ngana! Jutaaaaaa iniiiiiii!”

Orang Gila

Rumahnya Ungke letaknya berdekatan dengan rumah sakit jiwa. Siang itu, Ungke diajak kerabatnya, yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu.

Satu orang pasien bernama Gafur, diajak keluar oleh kerabatnya.

“Om Bambe, mo bawa ka mana ni pasien?” selidik Ungke.

“Iko jo (ikut saja)!”

“Jadi kita ini mo tes kalu Gafur masih gila ato so sadar. Kita curiga kwa dia ini so sadar
mar pura-pura gila,” sambung Om Bambe.

“Mo bawa ka mana ini dang?” tanya Ungke penasaran.

“Ka kolam renang.”

Setelah sampai di kolam renang yang jaraknya memang cukup dekat dari rumah sakit jiwa, Om Bambe menyuruh Gafur melepas pakaiannya.

Satu per satu Gafur mencopot pakaiannya, dan baru terhenti setelah diteriaki Om Bambe.

“Eh, calana dalam nyandak usah!”

Ungke terbahak-bahak melihat kejadian barusan. Ungke juga heran sebab kolam renang tidak berisi air. Hanya kotak-kotak ubin mengilap.

“Skarang coba ngana ba lumpa (lompat) ka kolam, Gafur,” kata Om Bambe sambil memberi aba-aba dengan telunjuk.

Gafur hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Nah, coba ngana lia? So sadar kwa Gafur ini mar pura-pura gila,” kata Om Bambe memastikan kecurigaannya selama ini benar.

“Coba Om Bambe tanya. Kiapa dia nimau (tidak mau) ba lumpa?” kata Ungke.

“Eh, Gafur. Kiapa ngana nimau ba lumpa?”

Gafur, sambil melipat kedua lengannya di atas dada menjawab, “Dingin.”

Tebak-tebakan

Sekali lagi, Utu mampir ke rumah Ungke. Utu yang gemar melontarkan pertanyaan aneh, kembali mengetes temannya itu dengan tebak-tebakan.

“Ungke, bola apa yang sama deng kucing?”

“Apa eee? Hmm… nintau apa no,” Ungke menyerah.

“Bolaemon,” kata Utu.

Terlihat Ungke agak kesal karena tidak berhasil menjawab.

“Ayam apa yang paling basar?” Sekali lagi Utu melemparkan tebak-tebakan.

Sambil mengernyit, Ungke sekali lagi menyerah.

“Ayam semesta!” kata Utu, kali ini disusul tawa keras sekeras-kerasnya keras. “Payah ngana no!”

Kesal dengan tingkah Utu. Ungke balik bertanya, “Gajah apa yang paling bersih?”

Sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu, sedasawarsa, seabad… eh, semenit kemudian Utu mengaku menyerah.

“Gajahlah kebersihan,” kata Ungke dengan santai, tanpa memandang wajah Utu.

Mop ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Monday, January 15, 2018

Jendela, Jendela Apa yang Kalau Dipecahkan, Hukumannya Penjara 20 Tahun?


Harga Mi

Pukul 11 malam, tetiba perut Ungke keroncongan. Dia lalu menuju meja makan dan tidak menemukan apa pun di sana.

Ungke lantas menuju warung terdekat, warung milik Om Alo, yang ternyata sudah ditutup. Karena langganan, ia yakin Om Alo pasti bangun, maka Ungke ketuk saja itu pintu warung. Tok, tok, tok….

“Sapa itu?” teriak Om Alo dari dalam warung.

“Ungke, mo babeli Supermi,” jawab Ungke sambil merogoh saku celananya. Ternyata uangnya tinggal seribu.

“Supermi rasa kari ayam berapa, Om?” tanya Ungke.

“Tiga ribu.”

“Kalu rasa soto ayam?”

“Dua ribu lima ratus,” jawab Om Alo masih dari dalam warung. Ia belum membuka pintu, menunggu Ungke habis bertanya.

“Kita pe doi tinggal saribu, Om. Supermi rasa apa yang harga saribu?”

Kesal dengan pertanyaan Ungke, Om Alo yang sudah mengantuk itu menjawab, “Rasa tahi ayam!”

Mumi

Ungke dan Utu pergi ke museum untuk melihat mumi yang sedang dipamerkan.

“Ngana so pernah lia mumi?” tanya Utu.

“Belum pernah. Ngana le belum to?”

“Iyo, sama,” kata Utu.

Setelah masuk ke museum, Utu terperangah melihat mumi yang sekujur tubuhnya seperti dibalut tisu toilet.

“Eh, kiapa ada tulis 5050 SM?” tanya Utu sambil menunjuk angka di bawa peti mumi.

Setelah menggaruk-garuk kening, Ungke menjawab, “Mungkin itu pelat nomor oto yang tabrak pa dia.”

Ketemu Kuntilanak

Suatu malam Ungke baru saja dari rumah temannya. Di jalan pulang itu Ungke melewati kebun pisang yang terkenal angker.

Baru saja sepertiga perjalanan, dari balik rerimbun daun pisang muncul kuntilanak. Ungke yang beragama Kristen segera membaca doa.

“Oh, Tuhan Yesus! Hancurkanlah iblis-iblis pengganggu ini!”

Tetiba Kuntilanak itu mendengus lalu berkata, “Mulai le balapor. Sama deng anak kacili jo ngana!” Kemudian kuntilanak itu menghilang.

Anjing Lapar

Warung makan Tanta Kori terkenal karena masakannya yang lezat. Ungke yang kelaparan siang itu mampir ke sana.

“Pesan ikang tuna bakar dang,” kata Ungke.

Setelah pesanan datang, Ungke segera menyantapnya. Saat lahap-lahapnya, Tanta Kori terus memperhatikan cara makan Ungke.

“Eh, Tanta, kiapa haga-haga terus?” tanya Ungke yang sadar dirinya diperhatikan sedari tadi.

“Ngana pe makang sama deng anjing lapar bagitu,” kata Tanta Kori.

Ungke hanya diam. Setelah menandaskan makanan, Ungke beranjak dari kursi lalu keluar.

“Eh! Ngana belum bayar so langsung pancar!” teriak Tanta Kori.

“Hih! Pernah lia so anjing makang kong babayar?” jawab Ungke.

Anjing Pandai

Utu pergi ke rumah Ungke untuk memamerkan anjing impor peliharaannya.

“Kita pe anjing ini pande skali. Tiap pagi papa’ pe koran di muka rumah, dia ambe kong bawa maso,” cerita Utu.

Ungke hanya asyik mengelus-elus anjing kampung peliharaannya.

“Kalo molempar bola, dia le mo main bola,” lanjut Utu.

“Kita so tau samua tu cirita,” kata Ungke.

Utu yang heran lantas balik bertanya, “Sapa yang cirita?”

“Kita pe anjing,” kata Ungke.

Beli Rokok

Ungke disuruh ayahnya membeli rokok. Mendapati warung Om Alo ditutup, ia terpaksa berjalan kaki menuju warung Om Kiko.

“Hoiii! Babeliii!” teriak Ungke di depan warung. Om Kiko ini dikenal agak budek.

“Hoooiii! Babeliii rokoook!”

“Beliii roookoookkk!” berkali-kali Ungke teriak.

Setelah hampir sepuluh kali berteriak, Om Kiko muncul dari kamar mandi yang ada di warung.

“Ngana bataria terus. Ndak ada yang pongo (budek). Berapa liter mo beli?”

Asal Bukan Jambore Mojok

Ungke pe opa baru saja meninggal. Dari cerita Oma, sebelum meninggal Opa minta agar saat dimasukkan ke peti, ia didandani dengan memakai baju Pramuka lengkap.

Saat acara perkabungan, banyak sanak keluarga yang menangis. Termasuk Ungke.
Melihat semuanya menangis, Oma yang ikutan sedih coba menenangkan diri dengan mengingat masa-masa ketika Oma kali pertama bertemu Opa saat kegiatan pramuka.
Setelah tenang, Oma lantas coba menenangkan kerabat lainnya.

“Anak-anak, cucu, dan cece sekalian. Sodara-sodara juga yang dari jauh. Jangan bersedih,” kata Oma.

Setelah menyeka air matanya, Oma melanjutkan penyampaiannya.

“Opa sebenarnya tidak ke mana-mana. Opa cuma pigi Jambore.”

Siram Bunga

Seminggu setelah Opa dimakamkan, Ungke jadi lebih sering main ke rumah omanya.
Sore itu, sesampai di rumah omanya, tetiba hujan turun. Oma yang tengah asyik menonton tivi menyuruh cucu kesayangannya itu.

“Itu bunga kote belum siram. Coba ngana siram dulu,” kata Oma.

“Ada ujang keras kwa itu, Oma,” jawab Ungke.

“So ngana ini cucu paling bodok. Pake payung no!” teriak Oma.

Gara-Gara Pecahkan Jendela, Penjara 20 Tahun

Di rumah oma Ungke, ada Om Joney yang baru saja keluar dari penjara. Om Joney ini kakak dari mamanya Ungke. Ia sudah bercerai dengan istrinya lalu memilih tinggal berdua dengan Oma.

Ungke yang belum akrab dengan Om Joney coba mendekatinya saat berada di dapur.

“Om, kiapa Om ada penjara so?” tanya Ungke.

“Ada kase pica kaca jandela dulu di tampa karja,” kenang Om Joney.

“Cuma kase pica kaca jandela kong hukuman sampe 20 taong?” selidik Ungke.

Om Joney hanya menghela napas kemudian berkata,
“Om ada kase pica kaca jandela kapal selam.”


Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co 

Tuesday, December 5, 2017

Seorang Laki-Laki yang Harus Pulang


Beberapa helai pakaian telah meringkuk di dalam keril, yang membuat keril itu segemuk bayi gajah. Kamis malam, 26 Oktober 2017, saya menyiapkan barang-barang kebutuhan selama perjalanan yang akan saya awali dari Kota Gorontalo.

Sebelumnya, saya sudah memberitahu inang kos, saya akan keluar kota selama beberapa hari. Bahkan mungkin bisa sebulan penuh. Saya sekaligus membayar uang kos untuk sebulan ke depan.

Semuanya siap. Saatnya untuk tidur, sebab pukul 6 pagi saya harus berangkat ke bandara, untuk terbang ke Manado. Baru saja mata ini mau terpejam, saya dikabari seorang kawan sekampung lewat pesan BBM.

"Kita di Gorontalo. Manjo bagate."

Awalnya saya enggan bertemu. Apalagi mereka sedang berasyik-masyuk dengan berkendi-kendi bir. Saya bukan anti alkohol, sebab saya peminum juga. Hanya waktu saja yang tak tepat.

"Adoh, pasti mo mabo. Pagi kita musti ka bandara."

Tapi kawan saya ini memaksa. Dan membuat saya tak bisa menolak, sebab kali pertama ke Gorontalo untuk kegiatan komunitas kami, sekitar 2004 lalu, saya sempat menginap di kosnya, sewaktu ia bersekolah di Gorontalo. Itu kali pertama dan terkhir kami duduk selantai bersama di Gorontalo.

"Kapan lagi baku dapa bagini di Gorontalo?"

Sebenarnya saya sempat menyatakan alasan kedua, kalau saya tidak tahu di mana lokasi mereka. Kendaraan juga tak punya. Dan jarum jam sudah menunjuk pukul 11 malam. Apalagi ia tidak bisa mengirim map lokasi. Hanya menyebut nama sebuah lapangan.

"Wartawan kong ndak mo dapa ni alamat?"

Sebaris pesan darinya itu, membikin saya tak bisa berapologi lagi.

Saya menuju tempat mereka dengan pengendara bentor yang cukup paham lokasi yang saya sebutkan. Saya menghubungi pengendara bentor itu, yang kebetulan langganan saya. Sebab pukul 11 malam, biasanya bentor sepi.

Setelah hampir 20 menit membelah malam Gorontalo, saya sampai di sebuah tanah lapang. Satu mobil diparkir dengan pintu belakang menganga. Ada sekardus bir terparkir di sana. Kawan saya, duduk melingkar dengan orang-orang yang belum saya kenal.

"Kita ada deng Iki." Ternyata, ada satu kawan lagi dari Kotamobagu.

Setelah keliling berjabat tangan, saya disuguhi bir yang sudah dicampur salah satu merek minuman beralkohol.

Malam itu, terasa ringkas. Saya mabuk berat. Yang bisa saya ingat, saya dibonceng seseorang menuju kos. Ia mengantar saya di depan kamar kemudian pamit.

Di kos, tak berselang lama, sopir mobil yang akan saya tumpangi ke bandara, mengetuk-ngetuk pintu kamar.

"So jam enam," teriak sopir, yang kebetulan istrinya, anak dari inang kos saya. Rumahnya hanya bersebelahan dengan kamar saya.

Masih setengah sadar, saya segera memilah-milah barang yang hendak saya bawa. Satu keril dan satu drybag. Saya segera masuk ke mobil. Berangkat.

Setelah setengah perjalanan, saya baru sadar, saya lupa memakai sepatu. Saya hanya mengenakan sendal. Selanjutnya, saya mulai merogoh kantong. Dompet ada. Ponsel android, tidak ada. Ponsel mungil, tidak ada. Kemudian saya meraba kepala saya, topi juga tidak ada. Ah, Donal Bebek, kau akan selalu sial.

Saya hanya tercenung selama perjalanan. Meter demi meter, saya mulai mengikhlaskan barang-barang itu.

Sesampai di bandara, saya baru ingat, jika tiket online pesawat ada di email. Biasanya, seperti kebanyakan orang, saya hanya menunjukkan email lewat ponsel android.

Saya segera mengeluarkan laptop di drybag, kemudian keliling di bandara, meminta tolong kepada siapa saja yang berkenan memancarkan hotspot, agar saya bisa mengakses email lewat laptop.

Seorang bapak, yang saya temui kali pertama menolak mentah-mentah. Kemudian bapak yang kedua, berbaik hati. Setelah berhasil mengakses email, saya segera menuju kantor pelayanan, untuk mencetak tiket tersebut. Selesai sudah.

Penerbangan ke Manado cukup singkat. Tidak cukup sejam. Saya segera memesan taksi, yang mengantar saya menuju hotel tempat pelaksanaan kegiatan workshop Safety Journalist dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Sebagai koodinator divisi advokasi AJI Gorontalo, saya yang diutus.

Di lobi salah satu hotel di Manado, saya harus menunggu beberapa jam lagi, sebab waktu check in dari panitia baru pada pukul 12 siang. Saya sempat tertidur di sofa, sampai akhirnya dibangunkan petugas hotel, yang sekaligus menyerahkan kunci kamar.

Di kamar, saya tergesa-gesa menyalakan laptop, menghubungkannya ke wifi hotel, dan membuka facebook. Saya mengirim pesan facebook ke kawan saya. Saya mengatakan, dua ponsel dan topi saya barangkali jatuh di tanah lapang, di lokasi ngebir.

Pesan saya lama ia balas. Tapi pesan darinya, yang terbalas pada sore harinya, membuat saya girang. Ia mengatakan ponsel android itu dikantonginya. Sementara ponsel mungil tidak berhasil ditemukan di lokasi. Dan topi saya, katanya telah berpindah kepala.

"Ngana yang kase pa kita."

Ah, sudahlah. Asal ponsel android saya selamat. Menurutnya, teman mereka orang Gorontalo, yang mengantar saya ke kos, menemukan ponsel android itu di tanah lapang, sewaktu ia kembali mengamankan sisa-sisa pesta.

"Bae dia kase pulang," kata kawan saya.

Saya segera menanyakan posisinya sekarang, apakah masih di Gorontalo atau telah kembali ke Desa Passi. Ia mengaku sedang dalam perjalanan pulang.

Berbekal status di facebook, saya dikabari seorang teman yang akan berangkat ke Manado. Saya menghubunginya, untuk dititipi ponsel tersebut. Sekaligus saya menitip sepatu yang ada di rumah saya, di Desa Passi.

Esok harinya, saat workshop pertama berlangsung, Sabtu 28 Oktober 2017, ponsel android dan sepatu boots saya tiba dari Kotamobagu. Ingin rasanya saya meloncat dari atap hotel yang kami tinggali saat itu, yang katanya bangunan tertinggi di Kota Manado. Hotel yang lift-nya sering macet.

Workshop berlangsung sampai Minggu 29 Oktober 2017. Esok siangnya, Senin 30 Oktober 2017, saya terbang ke Makassar. Sebenarnya, itu pengganti tiket pulang saya ke Gorontalo. Saya sengaja memilih ke Makassar, dari sana, saya terbang lagi ke Jakarta.

Pada perjalanan ini, satu-satunya tujuan saya sebenarnya ke Kota Cirebon. Ada sesuatu hal yang harus saya ikhtiarkan di sana. Bertepatan, pada bulan berikutnya, November, ada Kongres X AJI di Solo bersamaan dengan Festival Media. Itu hanya bonus dalam perjalanan saya kali ini.

Bonus lainnya, di Solo nanti, melalui grup telegram, kabarnya para redaktur Tabloid Jubi Papua, tempat saya bekerja, akan berkumpul sekaligus momen itu dipergunakan untuk rapat redaksi.

Kembali ke perjalanan dari Makassar menuju Jakarta. Sesampai di Jakarta, sore hari, saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gambir. Karena macet, bus tumpangan dari bandara ke Gambir memakan waktu sampai tiga jam. Saya baru tiba di Gambir sekitar pukul 9 malam.

Di stasiun, saya dipandu teman saya di Cirebon dari japrian whatsapp, tutorial mencetak tiket online kereta api. Dia sebelumnya sudah membantu saya membelikan tiket online, sebab tiket online yang saya pesan melalui aplikasi KAI, tidak bisa dibayar. Nasib penghuni Pulau Sulawesi, kami tak memiliki rel kereta api. Kabarnya sedang dibangun. Entah dua ribu belas berapa rampung.

Di Gambir, saya dituntun menuju mesin untuk mencetak tiket. Saya cukup memasukkan kode booking di layar monitor, dan tiket tercetak. Setelah itu, saya harus menunggu dua jam lagi.

Keberangkatan kereta sengaja saya pilih pukul 11 malam, mengingat kemungkinan pesawat delay atau macet parah, sebelum sampai Gambir.

Selama menunggu waktu keberangkatan, saya diarahkan teman saya, untuk mencicipi bakmi GM. Mudah menemukan tempat makan itu. Hanya berjarak tiga ruko dari dalam stasiun. Saat memesan bakmi, saya hanya disuguhi alat makan berupa sumpit. Saya tidak lihai memakai sumpit, meski pernah diajarkan saudara saya sewaktu di Bali. Tapi akhirnya bakmi itu tersikat habis.

Sebelum pukul 11 malam, saya naik ke tempat tunggu kereta api, setelah memindai tiket di pintu masuk yang dijaga petugas stasiun. Kereta api menuju Cirebon tiba. Namanya Cirebon Ekspress atau kerap disingkat Cireks. Perjalanan ke Cirebon memakan waktu 3-4 jam. Perkiraan, saya akan tiba pukul 2 dini hari.

Fasilitas di kereta api terasa nyaman. Apalagi di sisi kereta api, disediakan colokan. Itu benda yang sangat dibutuhkan seorang pengelana. Sering bermodalkan google map, tentunya android harus dalam kondisi hidup.

Saya tertidur selama perjalanan tapi sesekali terjaga. Saat kembali tertidur untuk kesekian kalinya, saya terbangun ketika stasiun Cirebon tinggal 30 menit lagi.

Menurut teman saya, tidur di kereta api lumayan aman, jika jarak tempuh perjalanan tidak terlalu jauh. Yang harus waspada, jika dari Jakarta ke Yogyakarta atau ke Surabaya, dengan waktu tempuh sampai 8 jam ke atas. Biasanya penumpang kelelahan dan tertidur pulas. Keadaan itu yang dipergunakan copet untuk beraksi. Tapi di kereta biasanya ada petugas brimob yang sesekali patroli.

Benar, saya tiba di stasiun sekitar pukul 2 pagi. Saya berjalan ke depan stasiun diikuti beberapa sopir jasa angkutan dan pengendara becak. Saya menolak tawaran mereka, dengan alasan masih ingin merokok. Tepat di pintu masuk stasiun, saya bertanya ke seorang petugas jaga, di sekitar stasiun adakah homestay atau hotel murah? Ia menjawab sembari menunjuk ke arah depan stasiun sekitar seratusan meter.

"Itu, Cordova."

Setelah menawarkan sebatang rokok kepadanya, saya berjalan menuju hotel itu. Harga per malam termasuk murah. Dari 30an ribu, 70an ribu, sampai 100an ribu.

Saya memilih yang 70an ribu, sebab itu hanya twin bed. Kalau yang 30 ribu kata penjaga hotel, ada tiga kasur tapi melantai, dan tanpa kipas angin. Aneh juga rasanya tidur sendiri di kamar hotel, dengan dua kasur kosong berjejer. Untuk kamar yang twin bed, saya sengaja menyatukan dua kasur.

Cordova termasuk hotel tua. Kendati bagian depannya sudah direnovasi. Bangunan lama tepat di belakang, dan kamar saya di sana. Saya diantar seorang pak tua menuju kamar. Sepanjang lorong hotel, dekorasi dan panjangan kuno menghiasi hotel. Ada dua buah cermin tua di lobi belakang, dan di tengahnya aquarium berkaca buram berhias tembaga. Dua ekor ikan putih pucat tampak menempel di dinding kaca.

Perasaan saya pagi itu tidak enak. Sekitar pukul 4 pagi, saya mendengar ada yang sedang menyapu di halaman belakang. Saya sempat mengintip lewat jendela. Dari sekira sepuluh kamar yang mengitari halaman belakang, dan membentuk huruf O, hanya ada satu kamar lagi di seberang yang lampunya menyala. Pertanda sedang ada tamu.

Saya berusaha untuk tidak tidur pagi itu. Semua lampu saya biarkan menyala. Ketika azan Subuh sayup-sayup terdengar, saya mulai lega sebab sebentar lagi hari akan terang.

Teman saya, baru akan menjemput pukul 12 siang, saat istirah kerja. Dan ketika pagi sudah benderang, saya akhirnya tertidur pulas. Saya terbangun pukul 11 siang dan mulai bersiap-siap. Tak berselang lama, teman saya dan sopirnya datang menjemput.

Siang itu, saya diajak menyantap empal gentong. Kalau di Makassar ada cotonya, maka di Cirebon mungkin cotonya itu, ya, empal gentong. Saya bukan penyuka daging sapi, kecuali disate. Tapi ketika mencicipi empal gentong dari daging sapi yang tak amis, empuk, dan renyah itu, lidah saya seketika cocok.

Setelah makan sepuasnya, kami pergi mencari homestay untuk saya menginap selama dua pekan. Saya bahkan sempat mengunduh aplikasi Mami Kost di App Store. Lumayan membantu, tapi rata-rata nomor yang dihubungi mengatakan sudah penuh.

Harga homestay rata-rata per hari 100an ribu. Jika saya menginap selama dua pekan, atau 14 hari, bisa sampai sejuta lebih. Setelah masuk keluar lorong, teman saya menganjurkan untuk menengok salah satu tempat kos, yang pernah ia datangi dulu. Kami berhasil menemukannya. Pemiliknya orang bugis.

Sewa sebulan 900 ribu, dengan fasilitas kasur, lemari, meja, kursi, kamar mandi, dan pendingin ruangan. Cirebon cukup panas. Jika dibandingkan total harga sewa homestay selama dua pekan, harga kos ini lebih murah. Kendati saya menginap tidak sampai sebulan.

Setelah melihat kamar, saya pun memilih tinggal di kos itu. Teman saya pulang ke rumahnya, dan baru akan menjemput saya sore harinya, untuk pergi melihat-lihat kliniknya. Saya istirah sejenak, kemudian menyelesaikan mengedit berita di Tabloid Jubi online.

Saya sempat membuat status di facebook tentang Kota Cirebon. Di dalam kereta, saya menuliskan ini ...

Kota kecil ini tentu saja lebih ramai dari kotaku: Kotamobagu, di Sulawesi Utara. Di Kota Cirebon, semuanya ada. Termasuk rel kereta api yang tak kami miliki di Sulawesi.

Cirebon, kota yang begitu banyak menawarkan makanan enak. Jika kali pertama ke sini, kalian harus merasakan empal gentong. Rasanya, tak perlu ke surga.

Selain empal gentong, ada nasi jamblang, mi koclok, dan nasi lengko yang tak kalah enaknya. Dan masih banyak lagi makanan khas Cirebon lain, yang bisa kalian nikmati. Namun, sejauh cicipan lidah ini, empal gentong ialah yang terbaik. Ingin tahu lebih banyak soal kuliner di Cirebon? Gugling.

Menyoal objek wisata, baik budaya dan sejarah, Cirebon kaya akan itu. Peninggalan kolonial bertaburan di kota ini. Selain itu, di kota ini terdapat makam para syekh dan makam Sunan Gunung Jati. Karena itu kota ini disebut pula Kota Wali. Keraton juga ada. Mau lebih jelas, gugling.

Berada lebih dari dua pekan di kota ini, tentunya bukan tanpa alasan. Saya, membahasakan situasi ini: sebagai bentuk ikhtiar dari takdir perjalanan hidup saya.

Sejenak menepi di sini, adalah hal paling berharga. Saya dikelilingi kebaikan-kebaikan yang tak satu pun sanggup saya balas.

Orang-orang di sini ramah. Saya sekejap bertambah teman. Dari mereka kalangan atas, menengah, hingga yang paling bawah. Ketiga lapisan ini tak terpisahkan, sebab saling berkelindan. Kebaikan dari yang di atas, akan bercucuran ke yang paling bawah. Tak semuanya begitu memang. Masih bisa ditemui sisi-sisi congkak, dari kota-kota kecil seperti ini, yang mulai merangkak menjadi keji.

Di Cirebon, saya menemukan antitesis dari kalimat: sakit pasti mahal. Tak semua dokter memungut biaya seenaknya kepada para pasien. Ada yang menerima seikhlasnya dan mematok harga sesuai kemampuan pasiennya. Selain itu, dokter-dokter ini rela membuka klinik yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Mereka mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan lebih mendekatkan diri kepada orang-orang desa.

Dokter-dokter ini suka menyebut diri mereka sebagai: dokter desa. Saya pernah bertanya, "Kenapa tidak membuka klinik di rumah atau di area perkotaan?" Jawaban yang saya dapat, "Di kota akan lebih ramai pasien."

Tentu saja jawaban itu mengherankan. Sebab yang namanya mencari duit, tentu saja ingin pelanggan yang banyak. Tapi dokter-dokter ini memilih membuka klinik jauh dari perkotaan, agar bisa lebih dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan.

Klinik mereka berada di salah satu tepi lorong sebuah desa. Menuju desa ini, persawahan hijau akan dilewati. Memang kondisi di desa ini, tidak seperti desa kebanyakan yang kita kenal. Misal; sepi, akses jalan sedikit susah, dan fasilitas kurang memadai. Tapi di desa tempat klinik mereka berada, sudah jauh lebih maju. Penjual buah-buahan dan makanan berjejer sepanjang jalan. Beberapa kios berderet pula. Selain ontel dan becak, kendaraan roda dua dan empat pun cukup ramai. Sebab desa ini pusat kecamatan dari desa-desa kecil di sekitarnya.

Selama di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari seorang sopir, saya belajar tentang arti kesetiaan. Dari seorang mang becak, saya belajar soal kegigihan, dan percaya bahwa usia hanya deretan angka. Dari seorang pendatang nun jauh yang memilih menikah di sini, saya belajar bahwa kebaikan kerap menular. Dari seorang penjual makanan, saya belajar jikalau untung sudah lebih dari cukup, untuk apalagi menambah jualan? Dan dari beberapa dokter di sini, saya belajar kalau hidup memiliki batas, dan jika itu sudah dicapai, mau apa lagi?

Menyoal kebaikan, banyak hal yang tak harus diutarakan. Sebab makna kebaikan akan berkurang, jika semuanya harus dituturkan satu per satu. Disimpan saja sebagai cermin, agar selalu teringat berbuat baik kepada orang lain.

Ah, terima kasih untuk segala kebaikan di kota ini; makanannya yang enak, keramahan, dan kotanya yang indah. Sampai berjumpa lagi tahun depan ... empal gentong!

Stasiun Cirebon, Rabu, 15 November 2017.

Begitu panjang yang saya alami di kota ini, dan semuanya tak harus saya utarakan. Sebab setiap harinya, berisi kebaikan-kebaikan dari orang di sekitar saya.

Saya berangkat dari Cirebon menuju Yogyakarta, sesuai tanggal yang tertera pada tulisan itu, pukul 10 siang. Sore harinya, pukul 3 sore saya baru tiba di Yogyakarta. Perjalanan dari Cirebon memakan waktu 5-6 jam.

Yogyakarta salah satu kota yang saya idam-idamkan, selain Bali, Jayapura, dan Lombok. Dua kota lain sudah saya jejaki kecuali Lombok. Tak lama menemukan penginapan murah di Yogya. Hanya sepuluh menitan dari stasiun, saya berhasil menemukan Hotel Utara. Hotel ini sebenarnya direkomendasikan teman saya. Harga per malam hanya Rp80 ribu untuk twin bed. Single bed Rp100 ribu. Saya memilih twin bed dan memakai trik ketika di Cordova. Menyatukannya.

Saya rencananya menginap di Yogya selama sepekan, sembari menunggu Fesmed dan Kongres X AJI di Solo, yang rangkaian acaranya dimulai 21 November.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Hotel Utara, saya sudah tertarik dengan dekorasinya. Hotel ini serupa losmen yang pernah saya tonton serialnya di TVRI semasa kecil. Di teras mungil, ada dua kursi rotan dan mejanya berasal taplak bermotif batik. Jendelanya memanjang dan berterali besi. Menurut teman saya, hotel ini termasuk cagar budaya, karena dulu pernah menjadi barak para prajurit belanda.

Akses menuju pusat kota, seperti Tugu, Alun-Alun, Keraton, dan Malioboro juga dekat. Yang jauh tentu saja Borobudur, Prambanan, dan kantor Mojok yang ada di Jakal kilo 13, Sleman sana.

Tapi Yogya, sejak saya tiba, hujannya awet. Jika hendak janjian dengan teman, kami harus memilih tempat indoor. Saya sempat bertemu Mentari, yang desanya tetanggaan dengan desa saya, di Bolaang Mongondow.

Setelah mengunjungi Malioboro, Borobudur, dan Taman Pintar (tempat ini yang membikin barang bawaan saya semakin berat), saya pun menyempatkan diri melawat ke kantor Mojok. Tentang kunjungan saya di Mojok, saya sempat mengirim naskahnya, yang sialnya tidak lolos tayang. Berikut naskahnya ...

Selain Borobudur, Prambanan, Malioboro, Keraton, dan ratusan objek wisata lain di Yogyakarta, rasanya tak komplet jika tak melawat ke salah satu objek wisata yang baru saja tenar, yaitu kantor Mojok.

Jika Anda berada di pusat Kota Yogyakarta, hanya berbekal gugelmep di aplikasi gojek atawa grab, Anda pasti akan segera menemukan kantor Mojok. Asal jangan naik becak gowes aja. Bahkan becak mesin motor, mungkin bisa ngos-ngosan kalau ke kantor Mojok.

Saya ingatkan, berdasarkan pengalaman saya pada Jumat 17 November 2017 kemarin, ketika memesan grab, di gugelmep biasanya keluar kantor Mojok.co dan Mojok Store di Ngaglik, Sleman. Waktu mesan saya kepakai alamat yang Mojok.co. Dan akhirnya nyasar ke Gang Elang. Saya pikir itu alamat yang sama, sebab sama-sama Ngaglik, Sleman.

Kantornya mayan jauhlah dari kota. Sekitar 30an menit, ditambah lampu merah yang bisa berkali-kali saking macetnya, ditambah nyasar, bisa 40 menitan. Ongkos grabcar Rp49 K. Saya naik mobil karena gerimis. Kalok grabbike hanya berkisar Rp28 K.

Akhirnya setelah menghubungi Pemimpin Redaksi (Pemred) Mojok, Prima Sulistya, saya dikasih tahu kalau itu alamat lama. Kantor yang baru, jaraknya masih lumayanlah jauhnya. 16 menitan lagi lama tempuhnya. Biasanya orang Yogya nyebutnya di Jakal km 13. Angkringan Mojok kalau saya tidak salah ingat, kata Prima ada di Jakal km 9. Jakal itu akronim Jalan Kaliurang. Bukan Jaka Kalong. Saya saja baru ngeh pas janjian dengan teman yang kontrakannya ada di Jakal km 6. Terus saya nanya, Jakal itu apaan?

Saat menuju kantor Mojok, rutenya kalau kayak di Bali, ya, kita sedang menuju Ubud. Beberapa jalan masih melewati persawahan nan menawan. Terus udaranya tipis-tipis AC di angka 20an. Apalagi saat itu sedang hujan. Mungkin itu alasannya mereka milih ngantor di Ngaglik. Biar saat menulis, lebih nyaman. Sepi.

Tapi menemukan kantor ini tak semudah yang saya kira. Saya dan sopir grab masih muter-muter lorong, nanya ke bapak-bapak yang malah kebingungan, sampai akhirnya saya harus menghubungi Prima lagi. Setelah Prima menampakkan behelnya di depan kantor yang tanpa plang itu, sopir grab seketika mendengus dan ngucapin: ohhhh. Dongkol. Mungkin kalau si sopir ini jadi intel, dan jalan sendirian, pasti harus nongkrong di perempatan lorong dulu, mantau-mantau, nungguin kemilau behel Prima atawa giginya Agus.

Untung saja, saya tidak dikasih patokan tiang listrik. Kecuali tiang listriknya ditabrak Papa Setnov atau digigit Agus Mulyadi. Baru bisa jadi patokan. Bukan saja patokan, malah bekas gigitan Agus itu, bakal menambah popularitas tiang listrik depan kantor Mojok itu, dan menjadi destinasi pariwisata baru lagi di Yogyakarta.

Saat masuk kantor Mojok, pandangan saya yang tengah menyapu seisi ruangan, mentok ke gigi, eh, wajahnya Agus. Puja gigi ajaib, akhirnya ketemu orang ini.

Di deretan kursi pertama, saya menyalami Aditya Rizki si webmaster. Kemudian ada Manajer Keuangan, Dyah Permatasari, yang transferannya selalu ditunggu-tunggu para penulis Mojok, yang pada kere seperti si Adlun Fakir, eh Fiqri. Tapi sayang, Dyah saat itu juga harus pamit.

Setelah itu, baru saya menyalami Prima. Selanjutnya, Agus, yang sejak saya masuk senyum terus. Tapi senyum itu kayaknya efek 3D dari giginya. Berikutnya ada Arman Dhani, si pendekar twitter, yang tengah berasyik-masyuk dengan game. Kemudian ada Azka Maula, yang khusyuk menggambar ilustrasi di pen tablet.

Sayang seribu malang, sebab Kepala Suku, Puthut EA, sedang ke Malang. Sekretaris Redaksi, Audian Laili, dan Desainer Grafis, Ega Fansuri, yang biasa jadi duetnya Agus Mulyadi di Movi, juga tidak ada. Tapi mayan tergantikanlah, karena mantan Pemred, Eddward S Kennedy, ternyata mampir juga ke Mojok, beberapa menit setelah saya.

Ada hal teristimewa yang saya alami, dan sebelumnya tidak pernah terjadi selama saya menjadi wartawan. Saya dibikinin kopi sama seorang Pemred. Jarang-jarang lho, Pemred bikinin kopi. Meski Prima bukan Pemred di media yang mempekerjakan saya. Tapi jujur saja, kopinya terlampau pahit. Dan bubuk kopinya sampai nangkring di sesap kali pertama. Itu kopi brapa sendok ngana taruh e?

Agus yang sedari tadi senyam-senyum terus, mengajak saya ngobrol. Saya iri kepada makhluk yang namanya sebanyak rambu-rambu lalu lintas ini. Agus, wajahnya selalu ceria. Senandungnya mengikuti lagunya Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far a.k.a Ebiet G. Ade yang disetel Azka di komputer, lebih sering terdengar, daripada ucapan yang keluar dari mulutnya. Kayaknya ini anak, emaknya ngidam kaset pita kali yak? Atau mungkin toa masjid.

Selama berada di kantor Mojok, saya sedikit memahami cara kerja redaksi. Mereka membicarakan isu, tentu saja, saat itu soal Papa Setnov, tertawa, mengumpat, kemudian menuliskannya secepat kereta api Shanghai Maglev di China. Posting.

Azka yang biasa membikin ilustrasi, juga tampak teliti melukis wajah-wajah orang yang hendak dijadikan bahan lelucon. Misal, saat itu, Iqbal Aji Daryono, yang foto gondrongnya seperti John Lennon baru keluar salon, dipilih sebagai ilustrasi di info penulis berikutnya.

Arman Dhani dari rehat nyinyirnya, memilih meripres otaknya dengan main game. Setelah itu pantengin laptop, menulis. Sementara Rizki yang kalemnya minta ampun--sampai-sampai saya jadi tidak tegaan sewaktu sibukin dia nyariin buku dan kaus--, tengah serius pantengin laptop juga. Prima jangan ditanya lagi, kelincahan jarinya seperti pianis Ananda Sukarlan.

Dan ... Agus? Sudah saya bilang, dia makhluk terbahagia di alam semesta ini. Kerjaannya senyum, ketawa, bersenandung, dan mindahin pantat dari satu kursi ke kursi lain. Tapi karena Agus sedang santai, dialah yang banyak bercakap-cakap dengan saya. Orangnya cepat lengket.

Eddward S Kennedy yang biasa mereka panggil Panjul, lebih banyak dengan gadget, nyisir rambut pirangnya--yang kata Agus mirip Hatta Rajasa--dengan jejarinya, dan sedikit-sedikit benerin kausnya di bagian perut. Tampak dari perutnya, dia sangat sejahtera di Kumparan.

Hari itu, ada juga satu lagi pria, mungkin dia si Dony Iswara, yang biasa mosting-mosting di media sosial. Tapi si Dony ini kebanyakan di dalam kamar. Sibuk lemesin jejarinya mungkin, setelah seharian skrol-skrol klik-klik. Atawa malah mungkin dia si Ali Ma'ruf yang bertugas menjadi videografer. Saya tidak kenal wajah mereka berdua soalnya.

Nah, bagi kalian yang ingin berwisata ke kantor Mojok, diharapkeun membawa uang tunai. Sebab ada banyak buku layaknya toko buku di Taman Pintar, dan kaus-kaus yang tentu saja kerennya ngalahin kaus-kaus dilapakan Borobudur yang serupa labirin itu.

Saya hanya sempat membeli satu novel karya Puthut EA: Seorang Laki-Laki yang Keluar Dari Rumah. Karena judulnya hampir sama dengan keadaan saya, yang sedang keluar rumah dari awal tahun dan belum pulang-pulang. Sama satu kaus kloningan dengan yang dipakai Agus saat itu. Bagian depan kaus bertuliskan: speak english, drive american, kiss french, party caribbean, dress italian, spend arabic, agus magelangan. Asyu!

Agus sempat bilang gini, "Masak ke sini hanya beli bukunya Mas Puthut?"

Mungkin dari kalimat itu, terselubung iklan buku-bukunya yang itu tuh: Diplomat Kenangan, Bergumul dengan Gus Mul, dan Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Atawa bukunya Arman Dhani: Dari Twitwar ke Twitwar. Atawa bukunya Eddward Kennedy: Sepak Bola Seribu Tafsir.

Tapi ... ya, begitulah. Kalian masih kalah tenar dan sakti dengan Kepala Suku. Dan uang di dompet saya tinggal cukup untuk satu buku dan satu kaus. Tentu saja saya prioritaskan yang sakti. Buku kalian ada di antreanlah. Sekalian nunggu bukunya Pemred Prima kelak, yang mungkin saja bakal diberi judul: Kamus Behel-Behel Indokarta.

Salam sayang selalu, for ngoni …

Iya, judul tulisan saya kali ini, sepenggal meminjam judul bukunya Puthut EA itu.

Saya berada di Yogya hanya sepekan saja. Tapi di sana, saya bertemu teman facebook dari Medan, Lae Dikki. Bertemunya saat saya mengunjungi Borobudur. Selanjutnya, kami bertemu lagi di Starbucks Malioboro. Ia sempat bilang, jangan sungkan, dia yang traktir.

Hari terakhir di Yogya, saya menghabiskan waktu berjam-jam di Malioboro. Saya berbincang-bincang dengan tukang becak, pedagang kaki lima yang kakinya buntung dan memakai kursi roda. Mereka kebanyakan mengeluh. Tukang becak mengeluhkan soal penertiban di sekitar Malioboro. Biasanya beberapa kali mereka dilarang mangkal. Sementara pedagang kaki lima difabel, mengeluhkan soal jalur khusus penyandang cacat sepanjang Malioboro, yang sebagian rutenya menjadi lapakan suvenir dan tenda warung makan.

Ah, tiba waktunya meninggalkan Yogya. Selasa siang, 21 November 2017, saya berangkat ke Solo. Selama perjalanan, saya termasuk jarang sekali membuka grup pertemanan baik di whatsaap dan telegram. Saya sengaja membisukan pemberitahuan. Kecuali ada japrian, laporannya segera muncul di layar. Di luar itu, aplikasi media sosial instagram saya sengaja koneksikan dengan facebook, agar apa saja yang saya bagikan di instagram, pun terbagi di facebook.

Dalam perjalanan ke stasiun, Mbak Dewi yang tinggalnya di Surakarta, salah satu kawan editor online di Tabloid Jubi, menjapri saya. Ia menanyakan kapan keberangkatan saya dari Yogya. Saya mengatakan hari ini juga. Ia menyarankan, sesampainya saya di Solo, agar segera menuju Cakra Homestay. Nantinya, saya sekamar dengan editor Jubi dari Padang, Uda Syof, dan kawan Syam yang sesama anggota AJI Gorontalo. Saya mengiyakan.

Tiket kereta Prameks dari Yogya ke Solo hanya Rp8 ribu. Kaka Viktor sempat bercanda, harganya masih lebih mahal obat Paramex. Kata Mbak Dewi, penumpang harus cepat-cepat ke stasiun, sebab berebut kursi. Saya beruntung tiba 20 menitan sebelum kereta datang.

Perjalanan ke Solo hanya sejam. Sesampainya di stasiun, saya segera jatuh cinta dengan kota ini. Seorang bapak, ketika saya menanyakan di mana pintu keluar, menunjuk dengan sopan dan mengantar dua meter ke depan, sampai tulisan exit terlihat.

Saat saya memesan grab, harga yang tertera Rp8 ribu. Ketika saya sampai di depan lorong masuk ke homestay, dan merogoh dompet, ternyata uang saya tinggal satu lembar lima puluh ribuan, dan lima ribuan. Sopir itu tak memiliki kembalian jika saya membayar dengan uang lima puluh ribuan.

"Lima ribu aja, mas," katanya. Untuk pengemudi jasa angkutan semacam gojek dan grab, memang butuh poin. Namun, uang pendapatan pun nantinya untuk mereka.

Saat memasuki lorong menuju homestay, saya memandang tembok tua meninggi sepanjang lorong di Kauman itu, yang pintu-pintu dan jendela-jendelanya tampak purba. Gerbang homestay pun jangkung, dikililingi tembok lima meteran berbeling dan berkawat duri.

Saat bel saya pencet keempat kalinya, penjaga homestay membuka gerbang. Pagar logam itu berderit. Dan ... saya terperangah melihat bangunan homestay. Awalnya saya mengira, bangunan homestay ini modern atau seperti homestay kebanyakan.

Saya mengikuti pesan Mbak Dewi, dengan menyebutkan namanya kepada penjaga.

"Oh, temannya Mbak Dewi. Mari sini," Ia menuntun saya menuju kamar.

Sepanjang jalan menuju kamar, saya terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan, dekorasi, dan pajangan-pajangan. Dari lukisan yang menempel di dinding, lampu gantung di teras, meja dan kursi, gamelan, dan banyak lagi perangkat kuno lainnya. Saya bahkan tidak menyangka, homestay ini memiliki kolam renang, meski kecil, tapi di depan kolam ada seperangkat lagi gamelan di panggung mungil.

Kamar saya terletak di lantai dua. Baru saja saya sampai di kamar, terdengar percakapan asing di bawah. Saya menengok ke bawah dan ada tiga orang asing tengah ditemani penjaga, hendak melihat-lihat dan memilih kamar.

Saya segera menjapri Mbak Dewi. Saya menanyakan harga sewa homestay tersebut. Ia mengirimkan daftar harga dari seratusan sampai dua ratusan. Termahal, kamar VIP yang per malamnya Rp400 ribu.

Saya bilang, untuk sekelas Bali, pasti harga homestay ini lebih mahal lagi. Kamar kami dilengkapi pendingin ruangan, twin bed ditambah satu kasur. Sebab sekamar nanti, rata-rata penghuninya tiga orang. Sama seperti kamar untuk redaktur Jubi dari Papua.

Kata Mbak Dewi, anak pemilik homestay, teman sekelasnya sewaktu SMP. Dulu, homestay ini pabrik batik. Jika disesuaikan dengan usia pabrik, bangunannya sudah berusia 150 tahun.

Selain saya dan kru Jubi, Eva dari AJI Manado, teman-teman dari AJI Pekanbaru dan Bandung, juga akan menginap di homestay ini, karena Hotel Keprabon penuh. Sebenarnya AJI Indo menyediakan hotel juga bagi kami, peserta Fesmed dan Kongres, di Hotel Keprabon dan The Sunan, tapi sepertinya, pantat ini sudah lengket dengan homestay ini. Sama-sama gratisan juga.

Saya menghabiskan waktu berkeliling homestay, sembari menunggu teman-teman dari Papua dan Uda Syof dari Padang. Sementara salah seorang teman dari AJI Gorontalo yang juga redaktur Jubi, Syam, tertunda keberangkatannya dari Magelang, sebab anaknya sakit dan sedang perawatan.

Pukul 7 malam, saya pergi mencari makan di depan lorong. Langkah kaki saya tersandung pada penjual sate ayam asal Madura. Saat menunggu pesanan sate, saya pangling ketika salah satu artis lewat mengendarai sepeda. Jay Subiakto. Atau mungkin hanya mirip saja. Kata penjual sate, dia akhir-akhir ini sering terlihat lewat dengan sepeda.

"Mungkin datang pas pernikahan anak Jokowi. Kan, rame tuh sama artis," kata penjual sate yang namanya mirip dengan nama teman saya, Syam.

Setelah makan, saya celingak-celinguk mencari warung di sekitar. Saya bertanya kepada penjual sate, di mana ada warung atau maret-martan.

"Waduh, di sini gak boleh ada indomaret atau alfamart. Adanya warung, tapi masuk lorong samping toko batik itu. Nanti jalan seratusan meter, mentok, ada warung."

Saya menuruti petunjuknya. Sepanjang jalan, saya memang tidak menemukan warung lain apalagi maret-martan.

Saat kembali ke homestay, ternyata teman-teman dari Papua su datang eee ... ada Kaka Minggus, Jean, Timo, Angela, Yulan, dan yang terakhir ini, Zely asli Aceh, yang baru kali pertama bersua. Sewaktu ke Jayapura beberapa bulan lalu, kami tidak sempat berjumpa.

Kami saling bersalaman dan bertukar kangen sambil menunggu Uda Syof dari Padang.

Fesmed di Grha Solo Raya, rencananya akan dibuka 23 November 2017. Sambil menunggu Fesmed dibuka, sore 22 November 2017, kami dari Jubi rapat redaksi di bangunan serupa menara di homestay. Untuk sampai ke atas, kami harus menaiki tiga lantai dengan anak tangga yang melengkung dari dalam hingga ke luar, yang menempel di satu sisi tembok.

Syam dari Magelang, Edi Faisol dari Semarang, dan Kaka Viktor dari Jayapura belum tiba. Saat rapat berlangsung, siang itu, kawan Wawan si anak bawang dari AJI Gorontalo, tiba. Saya mengarahkan dia menuju kamar sambil melemparkan kunci dari atas.

Wawan juga membawa ponsel mungil saya dari Gorontalo, yang ternyata tertinggal di kamar kos. Saya sempat meminta bantuannya untuk mengecek ponsel itu, karena beberapa kali saya hubungi, masih aktif. Kalau pun jatuh, pasti sudah ada orang yang menemukannya dan nomor cantik namanya Sigi: 5161, pasti dipatahkan dan dibuang si penemu. Ternyata benar, hanya ketinggalan di kamar.

Sejam kemudian, rapat redaksi selesai. Saya dan Wawan segera mencari tempat untuk mencetak backdrop yang akan dipasang di stand AJI Gorontalo di lokasi Fesmed.

Setelah berjalan lumayan jauh dan tak berhasil menemukan tempatnya, saya membuka aplikasi grab, memesan, dengan memakai alamat tujuan berkata kunci percetakan. Ada sekira lima nama tempat percetakan yang muncul. Kami belum sampai di tujuan, dan sopir menujuk salah satu tempat percetakan. Wawan turun dan ternyata benar, tempat itu bisa mencetak backdrop dalam waktu sejam.

Sambil menunggu, saya mengajak si anak bawang ini makan. Takutnya, ia belum makan-makan, sebab perjalanannya kali ini, tanpa membawa bekal acar apalagi nasi suwir dari Gorontalo. Setelah makan, saya pamit duluan ke lokasi Fesmed untuk mengecek lokasi stand.

Sore itu, titik lokasi masing-masing stand AJI Kota se-Endonesa baru ditempeli kertas bertuliskan nama masing-masing AJI Kota. Setelah menemukan titik itu, saya tinggal menunggu Wawan, sambil bercakap-cakap dengan banyak kawan dari AJI per kota sepelosok Endonesa.

Malam harinya, saya pamit ke homestay untuk mengedit berita. Wawan menuju Hotel Keprabon, kamar jatah untuk peserta AJI Kota. Sebab Syam rencananya akan tiba malam harinya, dan menginap di Cakra Homestay. Kasur hanya tiga, untuk saya, Syam, dan Uda Syof. Daripada disuruh ngalas di lantai pakai handuk, Wawan bijak memilih menginap di Keprabon.

Syam tiba, saat saya sedang makan sate Madura yang nama penjualnya itu juga Syam. Setelah itu kami berangkat ke Grha Solo Raya. Wawan sudah lebih dulu di sana. Kotak per kotak stand berdiri tegak. Backdrop dipasang. Selesai.

Saya pergi menyapa kawan-kawan AJI lagi yang baru tiba. Kebetulan ada beberapa teman yang sempat se-workshop dulu. Pun kawan-kawan sesama kontributor di beritagar.id dari beberapa wilayah di Endonesa.

Esok harinya, Fesmed dibuka dengan meriah. Semua stand berisi pernak-pernik khas, dan berbagai macam kreativitas berhamburan. Workshop bertema jurnalistik pun tinggal dipilih. Selama dua hari Fesmed berlangsung. Dari 23-24 November.

Selanjutnya, setelah Fesmed, Kongres X AJI dilaksanakan di The Sunan Hotel, dari 25-27 November. Abdul Manan dan Revolusi Riza terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris Jenderal AJI periode 2017-2020 sebagai calon tunggal.

Selama Fesmed dan Kongres saya beberapa kali mencuri waktu untuk bisa berkeliling Kota Solo. Saya sempat berkunjung ke Monumen Pers Nasional dan beberapa objek wisata budaya dan sejarah lainnya.

Waktu berpisah pun tiba. Setelah berkasih-kasih dengan kawan-kawan AJI, esoknya, saya harus kembali melanjutkan perjalanan. Kaka Viktor dengan baik hati membelikan saya tiket pesawat pulang ke Gorontalo. Saya sadar diri, gratisan, tentu saja saya memilih kota keberangkatan yang harganya mungkin bisa di bawah sejuta. Sebab dari Solo atau Yogya harganya bisa sampai di atas Rp1,5 juta. Satu-satunya pilihan termurah adalah Surabaya.

Saya berangkat ke Surabaya. Sehari sebelumnya, kawan redaktur Jubi, Timo, berangkat lebih dulu ke Surabaya. Ia hendak mengunjungi adiknya. Ia pulang ke Jayapura, lewat Surabaya juga, di tanggal yang sama 30 November 2017, tapi waktu yang berbeda. Saya siang. Dia malam.

Perjalanan ke Surabaya dengan kereta ditempuh hampir 5 jam. Sesampainya di Surabaya, hujan awet seperti Yogya dan Solo. Sejak di kereta, saya dikabari kawan Themmy, yang pernah menjadi anggota AJI Gorontalo. Tapi sejak berdomisili lagi di Surabaya, ia pindah ke AJI Surabaya.

Saya berbohong kepadanya, kalau saya dari stasiun Gubeng Surabaya, langsung menuju Bandara Juanda. Sama halnya ketika beberapa kawan AJI Gorontalo, yang menanyakan apakah saya sudah di Gorontalo. Untuk ini, saya memohon maaf ya. Semoga bisa bersua di lain waktu.

Saya terpaksa berbohong, bukan apa-apa, setelah dari Solo dan perjalanan panjang ini, saya seperti ingin menepi dulu dari hiruk pikuk per-AJI-an. Apalagi Fesmed dan Kongres kemarin, puas sudah bersua dengan kawan-kawan AJI.

Di Surabaya, saya dipersilakan menginap di kos salah satu kawan yang pernah tinggal setahun di Kotamobagu. Saya juga baru ingat, beberapa karib asal Kotamobagu, yang pernah saya singgahi sewaktu mereka di Makassar beberapa tahun lalu, pun sedang mengenyam pendidikan di Surabaya. Kami janjian ngopi, sehari sebelum saya pulang ke Gorontalo.

30 November 2017, saya berangkat dari yang asing, mengitari tempat-tempat asing, dan kembali ke asing. Asing dalam pengertian, saya sedang tidak berada di tanah kelahiran. Betapa rindu akan kampung halaman, menggunung di dalam hati.

Memilih tinggal bukan di tanah kelahiran, selalu menjadi pilihan tersulit bagi sebagian orang, termasuk saya. Berada jauh dari masakan ibu, tawa Sigi, dan denting gelas kawan-kawan sedari kecil.

Hal yang teramat saya rindukan selain Sigi, adalah masakan ibu. Saya termasuk orang yang rakus. Di rumah, saya bisa makan sampai lima kali sehari. Berat badan saya, seketika akan meng-gajah jika di rumah. Itulah sebabnya, saya selalu cepat tersinggung jika menyoal makan. Hal itu berlaku bukan untuk saya sendiri, tapi jika itu menimpa orang lain juga.

Merasa lapar itu biasa. Tapi ketika ada orang lain yang menyinggung soal makanan, saya seketika akan mencoret namanya dari daftar pertemanan.

Menyoal makanan ini, saya pernah memiliki pengalaman yang membuat saya semakin mengerti, kawan sebaik apa pun itu, bisa seketika menjadi buruk perilakunya, tanpa kita tahu apa alasannya. Kawan jenis ini termasuk endemik.

Suatu malam di masa yang lampau, ketika saya kembali dari mewawancara narasumber, saya menemukan salah seorang kawan saya bersila di teras sebuah rumah. Saya tahu, ia lapar dan kawan ini tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Saya yang pernah merasa lapar selapar-laparnya lapar selama berbulan-bulan, menawari dia untuk membeli makanan.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah tadi."

"Makan apa? Tidak ada makanan apa pun di dapur. Jangan berdusta atau malu. Ini, untuk beli makananmu. Saya sudah makan tadi di luar."

Saya menyerahkan uang dua puluh ribu sambil menitip rokok batangan, kalau saja masih ada sisa kembalian.

Sedikit malu-malu, ia mengambilnya. Ia berjalan kaki menuju warung makan. Beberapa menit kemudian, ia kembali tapi tak membawa kantong makanan.

"Habis."

"Oh, beli saja di tempat lain," saran saya.

Tahu letak warung makan lain lumayan jauh jika berjalan kaki, ditambah fisik yang berisi sisa-sisa energi nol koma nol, ia berusaha meminjam motor ke kawan satu lagi yang berada di dalam rumah.

"Kak, pinjam motor."

"Mau beli apa?"

"Makanan."

"Makanan siapa? Kalau makanan untukmu, pergi sana! Kalau bukan, jangan! Kamu tinggal di sini bukan untuk disuruh-suruh!"

Saya yang tak tuli ini, dari luar mendengar jelas perkataan kawan itu. Saya tak perlu merentang apa yang sering saya lakukan di rumah ini, apalagi menyoal makanan. Cukup yang merasakan menyimpan dalam-dalam semua itu.

Sejak kejadian itu, saya menghapus namanya dari daftar pertemanan. Tapi, kawan itu malah dibela-bela, dan berjamaah para pembela itu mengatakan saya terlalu berkecil hati.

Sebelumnya, saat mengelilingi beberapa kota, hampir di setiap kloset yang saya singgahi untuk membuang hajat, saya kerap menyebut namanya, kemudian meludah ke dalam lubang kloset!

Diiringi doa: semoga segala keburukannya ikut hanyut bersama tinja dan air kencing. Ah, itu doa baik yang buruk ... yang pernah saya rapalkan seumur hidup.

Mau ke mana lagi tahun depan? Atau cukup menetap di desa saja. Berlibur di rumah saja. Sebab rumah, satu-satunya tempat yang tak pernah menyinggung saya soal makanan.

Dan itu berarti saya harus … pulang dulu.