Monday, January 9, 2017

Motayok, Tarian Pengobatan di Bolmong yang Terancam Punah

Chairun dan putranya, sedang memainkan alat musik Gimbal (Gendang) dan Golantong (Gong).
Chairun Mokoginta, salah satu pegiat budaya di Bolmong, sedang asyik menabuh alat musik Gimbal (Gendang), ditemani putranya yang turut menabuh Golantong (Gong). Hanya lima menit ia memainkan alat musik tersebut, kemudian ia duduk berbincang dengan saya, di serambi rumahnya, di Kelurahan Genggulang, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

Jika kita mendengar nama tarian Motayok, mungkin begitu asing di telinga. Tapi tarian itu adalah salah satu tarian warisan leluhur di Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sangat jarang lagi kita dengar bahkan saksikan.

Tarian itu menurut Chairun, adalah peninggalan para leluhur sejak ratusan tahun lalu. Tarian itu juga berfungsi sebagai tarian ritual pengobatan. Tarian tersebut diiringi dengan alat musik Gimbal dan Golantong yang baru saja ia dan putranya mainkan tadi.

Motayok adalah sebuah upacara ritual untuk mengobati orang sakit. Ritual itu sudah dilakukan oleh leluhur kita, sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan, kebiasaan Mokitayok adalah upacara ritual pengobatan tertua di Bolaang Mongondow,” cerita Chairun.

Tidak setiap orang bisa melaksanakam ritual tarian Motayok. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi menurut Chairun.

Motayok atau Mokitayok tidak serta merta dilakukan oleh setiap orang. Sebelum upacara ritual, terlebih dahulu dilakukan Moki bondit. Pada upacara Mobondit inilah akan diketahui jenis penyakit yang diderita oleh seseorang, sekaligus ritual apa saja yang harus dilakukan pada saat Motayok,” terangnya.

Di dalam pelaksanaan Motayok, berbagai jenis sesaji disediakan seperti ayam, beras, ketan dan koito’ (sagu hutan). Beras dan sagu itu dimasak di dalam bambu, dengan ukuran bervariasi.

“Dari mulai bambu seukuran ibu jari kaki, hingga ukuran betis orang dewasa. Semua masakan memang harus dimasak di dalam bambu. Dari nasi bail dan binarundak (nasi yang dimasak dalam bambu). Setelah semua tersedia, maka ritual dimulai,” urai Chairun.

Jumlah penari atau biasa disebut Bolian, tidak ditentukan banyaknya. Bisa satu orang atau lebih.

“Tergantung, bisa lebih dari satu orang. Waktu pelaksanaan juga ikut kesepakatan Bolian. Tapi biasanya waktu yang tepat itu, dimulai pada sore hari,” jelasnya.

Pembicaraan makin terasa aura mistisnya, sebab para penari dikatakan oleh Chairun, bisa menari hingga keesokkan harinya bahkan lebih, karena kerasukan roh leluhur.

“Bahkan bisa lebih lama, tergantung keinginan roh leluhur yang disampaikannya pada saat Nobondit. Biasanya bertahap dan bahkan bisa sampai empat belas hari, atau lebih,” kata Chairun dengan nada serius.

Namun sayang, tarian itu terancam punah kata Chairun. Di wilayah Bolmong, upacara ritual Motayok bisa kita temukan hanya di desa Bilalang Bersatu dan desa Tudu Aog.

“Tidak ada lagi generasi penerus, bahkan penarinya sekarang usianya sudah cukup tua,” sesalnya.

Ritual tarian Motayok di Bolmong hampir hilang ditelan bumi. Memang tarian itu menyuguhkan fenomena di luar akal sehat kita. Kendati demikian, tarian warisan nenek moyang itu patut dilestarikan, sebab bisa menarik wisatawan datang berkunjung ke tanah Totabuan.

Dengan sisa sebatang rokok di jepitan jemarinya, Chairun Mokoginta kembali melanjutkan cerita. Menurutnya, penari Motayok biasanya adalah perempuan. Mereka mengenakan busana kebaya putih polos, juga biasanya bermotif bunga. Mereka akan terus menari tanpa henti dan tidak merasa lelah.

“Mereka kerasukan, jadi fisik ditumpangi roh leluhur, sehingga rasa lelah yang dimiliki manusia tidak terasa lagi,” terangnya.

Katanya lagi, hanya yang bertugas sebagai pemain musik yang bergantian mengiringi. Sedangkan di sekitar tempat pelaksanaan ritual, dibangun pondok kecil dari anyaman bambu, yang disebut Sibi’ sebagai tempat diletakkannya sesajen.

“Itu diyakini juga sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur. Biasanya dalam waktu tertentu, terutama saat meletakkan makanan di Sibi’. Seseorang yang dianggap menguasai prosesi Motayok, meletakkan sesajen sambil merapalkan mantra. Lalu meminta roh leluhur agar setelah selesai menyantap sesajen, segera kembali ke tempat asalnya,” kata Chairun, sambil membuang puntung rokok yang baru saja dihisapnya.

Tingkat keampuhan pengobatan Motayok, sangat tergantung keyakinan orang yang diobati. Menurut Chairun, terkadang sekali diobati pasien bisa sembuh, asalkan yakin dan percaya.

“Tapi ada juga penyakitnya yang tidak sembuh. Pasien yang ragu-ragu dan kurang yakin biasanya yang tidak sembuh,” jelasnya.

Para Bolian dalam keadaan intrans memilki kesaktian. Mereka mampu menghadirkan benda secara gaib, sesuai permintaan orang yang hadir dalam acara Motayok.

“Namun sering kali benda berbeda yang muncul. Misalnya kita minta buah cengkih, terkadang bukan cengkih yang muncul. Tapi ada juga benda yang tepat sesuai dengan permintaan. Para Bolian sanggup mengadakannya dengan cara mengibaskan sapu tangan. Sekejap buah cengkih mentah, bahkan masih bercampur dengan daun cengkih, berhamburan keluar dari kibasan sapu tangan,” cerita Chairun.

Buah cengkih itu menjadi bahan obat untuk dikonsumsi pasien. Selain cengkih, ada jahe dan masih banyak lagi benda yang hadir secara gaib, sebagai obat penyembuh. Disampaikan pula oleh Chairun, meski di luar akal sehat, akan tetapi tarian Motayok harus terus dijaga dan dilestarikan. Hal-hal yang irasional, pasti menarik perhatian para wisatawan. Sama halnya dengan kekuatan supranatural yang dipertunjukkan para Bolian saat menari.

Hangat teh dan pisang goreng yang disuguhkan putri Chairun Mokoginta, membikin cerita semakin hangat pula di tengah cuaca Kotamobagu yang diguyur hujan. Chairun mengisahkan kembali, tentang tarian Motayok dan kesaktian-kesaktian para Bolian.

“Saat ritual, ada Bolian yang dapat mengambil barang antik dalam tanah dengan tangan telanjang tanpa menggunakan alat bantu. Kebanyakan roh halus yang merasuki para Bolian selain roh leluhur, juga adalah para Bogani. Sebab itu, ketika mereka dalam keadaan tidak sadar, kesaktian mereka cukup tinggi menyerupai kesaktian Bogani yang merasuki mereka,” tutur Chairun, sambil asyik menikmati kudapan pisang goreng yang tersedia di atas meja.

Selain cengkih dan jahe yang dihadirkan secara gaib oleh para Bolian, ada pula ritual saat para Bolian memberi minum air kelapa muda, juga saat memandikan para pasien. Beberapa pantangan pun berlaku bagi mereka yang menyaksikan tarian Motayok.

“Bagi yang belum pernah menyaksikan upacara ritual Motayok, harus mengetahui dulu beberapa pantangan yang harus dipatuhi,” terangnya.

Pantangan-pantangan tersebut di antaranya, dilarang Monogu’olit atau berucap Pali’ atau Wali’. Bila ada yang mengucapkan kata-kata tersebut, maka yang bersangkutan dianggap mengajak Bolian untuk beradu fisik.

“Jadi itu seperti ucapan menantang. Mendengar dua kata itu, Bolian akan marah dan mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Kadang kala bisa berakibat fatal dan orang yang mengucapkan itu bisa lumpuh saat itu juga. Bahkan tidak bisa melihat atau jatuh sakit secara tiba-tiba,” wanti-wanti Chairun.

Selain itu, ada pula pantangan agar tidak menginjak Dodal (sebatang kayu tempat para Bolian memijak) saat sedang menari.

“Biasanya Dodal ini akan diletakkan pada areal tempat menari. Bila ada yang menginjakkan kakinya di tempat terlarang itu, maka dianggap oleh para Bolian melecehkan keberadaan mereka,” terangnya.

Saat kondisi marah, kondisi Bolian akan Motokiman (badan para Bolian menjadi kaku). Di keadaan itu, para pembantu Bolian berusaha menyadarkan mereka, dengan Logantodan (gendang ditabu secara cepat), sambil seseorang pembantu merapal mantra dengan bahasa Mongondow kuno, hingga Bolian kembali sadar.

“Bila kita menyaksikan upacara ritual Motayok, maka kita bisa menyaksikan berbagai keanehan yang kadang kala di luar akal sehat kita. Tetapi hal itu bisa kita saksikan dengan mata telanjang. Tentu semuanya bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bila kita melihat dari sudut pandang agama pasti banyak bertentangan dengan syariat agama yang kita yakini. Tapi secara pribadi saya melihat keberadaan Motayok sebagai sebuah karya seni peninggalan leluhur kita,” kata Chairun.

Para Bolian menurut Chairun, sangat memegang teguh tata krama, terutama yang berkaitan dengan pantangan dan larangan untuk menjaga kewibawaan profesi mereka.

Besar harapan Chairun, agar tarian Motayok tetap dijaga dan dilestarikan.

“Saya sangat setuju dengan penyampaian Wali Kota Tatong Bara mengenai penetapan Kecamatan Kotamobagu Utara sebagai pusat kebudayaan nantinya. Tapi kapan itu direalisasikan? Semoga dalam waktu dekat ini. Jika saya dilibatkan, saya akan sangat bersyukur bisa membantu kebudayaan Bolmong kembali jaya seperti di era kepemimpinan Bupati U.N Mokoagow,” harapnya.


Sebelumnya hasil liputan ini dimuat di www.radarbolmongonline.com.